Aku bukan tipe orang suci yang jarang memiliki perasaan atau pikiran negatif kepada orang lain. Aku mudah kesal bahkan untuk urusan makanan yang lama sekali sampai di mejaku ketika aku sedang lapar-laparnya. Tapi, kadang kognitifku ini jalannya lebih cepat dibanding perasaan yang kadang mengganggu.
Aku pernah menjauhi seorang teman karena aku sakit hati oleh perilakunya. Entah benci atau takut tersakiti lagi, tapi perasaan yang seperti ini sangat nggak enak. Kemudian aku belajar, mengobservasi, mengalami sendiri, aku menemukan beberapa cara agar aku nggak mudah kesal atau membenci orang lain. Cara-cara berikut kadang manjur bagiku, kadang nggak manjur bagiku, nggak tentu manjur bagimu tapi juga mungkin manjur bagimu.
1. Coba Pahami
Pernah aku membaca salah satu artikel di psychologytoday (yang sayangnya aku lupa menyimpan artikel itu). Artikel itu tentang bagaimana cara memaafkan dan dimensi-dimensi dari memaafkan itu sendiri. Salah satu dimensi yang paling ngena di hatiku adalah 'coba pahami atau coba membayangkan jika berada di posisinya.' Mungkin posisinya berat sehingga dia harus memilih untuk menyakiti kita atau dengan tidak sengaja atau tidak sadar menyakiti kita.
2. Derajat
Mbak Cime, salah seorang temanku yang lapang hatinya pernah bilang, "Kenapa harus menjelek-jelekkan orang, barangkali derajat dia lebih tinggi daripada kita." Ini sederhana tapi mampu membuatku merasa bersalah karena masih sering ngomongin kejelekan orang. Barangkali di Mata Tuhan, dia lebih baik posisinya. Barangkali Tuhan jauh lebih sayang kepadanya karena dari kesalahannya dia belajar dan kembali kepada Tuhan. Ngga ada yang tau, kan?
3. Memaafkan
Mungkin ini yang paling berat. Aku pun masih berat untuk memaafkan orang yang menyakiti hatiku. Tapi suatu ketika, saat sedang iseng scroll timeline twitter, salah satu akun agamis ngetwit yang intinya "Kenapa kita nggak memaafkan orang lain? Padahal Tuhan sudah sering memaafkan kita." Eh iyaya? Aku ini siapa kok sok sekali nggak memaafkan orang padahal dosaku sudah sangat banyak dan Tuhan masih saja memaafkanku? Sama-sama manusia, sama-sama nggak sempurna, sama-sama berbuat salah, kenapa nggak mau memaafkan?
4. Benci perilakunya
Awalnya menurutku ini klise sekali. Tapi aku baru sadar bahwa manusia adalah mahluk yang dinamis. Apa yang dipikirkan sekarang, belum tentu dipikirkan besok. Apa yang dilakukan sekarang, belum tentu dilakukan besok. Barangkali hari ini dia berbuat salah, tapi siapa jamin besok dia masih berbuat salah? Bukankah hidayah Tuhan itu datang dari arah mana saja? Mungkin orang yang kita benci saat ini karena satu perilakunya, besok udah jadi orang yang baik karena disadarkan oleh semesta bahwa perilakunya nggak baik. Ketika perilaku tersebut udah nggak lagi dia lakukan, masa iya kita masih membenci orangnya?
Ya begitulah. Aku pun sedang belajar. Nggak selalu aku bisa dengan mudah memaafkan atau tidak membenci orang tapi yang aku yakini, perasaan benci, sakit hati, tersinggung yang berkepanjangan dan berlebihan itu nggak enak. Maka dari itu, aku mencoba untuk menguatkan pikiran baik agar bisa 'melawan' perasaan negatif yang mengganggu.
Tapi, kalau kita ketemu orang super baik yang mengaplikasikan empat hal tersebut, itu bukan berarti kita bebas melakukan 'kejahatan' ke dia. Kita tetap manusia yang lebih sering 'bisa' memilih, memilih untuk melakukan hal baik meski dalam keadaan sempit sekalipun.
Belajar Menerima Makanan Hotel
Yang kuyakini, mencintai itu berasal dari dua hal, menerima dan memaafkan.
Beberapa hari sebelum akhirnya balik lagi ke Jogja setelah liburan panjaaaang sekali, ayah dan ibuku memutuskan untuk liburan beberapa hari di Jogja sekalian untuk mengantarkan aku dan adikku balik ke perantauan. Kami juga mengajak oma kami (nenek ku), karena oma kami suka sekali jalan-jalan meski hanya duduk di mobil, melihat-lihat jalanan dan mengomentari apa yang ia lihat (Salah satu yang bikin kami ngga ngantuk adalah komentar oma kami yang lucu-lucu).
Kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel yang nggak begitu mahal, tapi juga nggak begitu murah. Ya ngga apa lah, jarang juga nginep di hotel, pikir kami saat itu.
Keesokan paginya, kami sarapan di restoran hotel. Sebagai anak kosan yang biasanya nggak sarapan karena keterbatasan waktu dan uang saku (lebih tepatnya mengalokasikan untuk hal lain :) wkwk), aku excited karena bisa makan banyak hal di sana. Apalagi setelah menjalani diet gagal selama liburan yang membuatku ngga bisa makan bubur ayam Bandung enak di Semarang, tujuan pertamaku tentu bubur ayam.
Suapan pertama, aku mensyukuri bubur ayam hangat yang enak ini. Suapan kedua aku sadar bahwa ada yang salah dengan bubur ayam ini. Bubur ayam ini keasinan banget. Asli. Tapi ya namanya Bianglala, tetep dihabisin aja. Setelah bubur ayam, aku nyobain makanan yang lain yang ternyata juga keasinan (ya kecuali roti tawar, susu, air putih, jus).
Ternyata nggak cuman aku yang merasa kalo makanan ini keasinan, keluargaku pun demikian, apalagi omaku yang pinter masak, pasti baginya makanan ini banyak salahnya. Akhirnya kami bilang ke staf hotel kalo makanannya keasinan dan mereka berjanji akan make it better untuk makanan besok.
Keesokan harinya, karena udah agak kapok sama bubur ayamnya, aku makan nasi goreng. Selain bubur ayam, nasi goreng juga salah satu makanan yg kusyukuri karena aku suka nasi goreng. Suka sekali. Meski aku pernah makan nasi goreng yang jauh lebih enak daripada nasi goreng hotel ini (nasi goreng babat Pak Karmin di Semarang, kalian harus coba), aku bersyukur karena nasinya itu tipe yang kering dan nggak blenyek, terus kecapnya nggak kebanyakan, dan yang pasti karena aku udah lama sekali nggak sarapan nasi goreng (GARA GARA DIET).
Selagi aku makan, omaku dan ibuku mengomentari makanan yang tetep nggak bener ini. Aku mengakui sih, masih keasinan, masih begini, begitu, dan sebagainya. Berarti memang standar cita rasa makanan mereka segini aja levelnya.
Tapi aku dapat sesuatu dari makanan hotel ini.
Kadang ada hal yang nggak bisa kita ubah di dalam hidup. Apapun itu. Kita nggak punya kontrol yang besar untuk mengubah meski kita udah berusaha. Yang bisa kita lakukan ya hanya menerimanya dan mencari sisi baik dari hal tersebut agar kita bisa lebih bersyukur.Dari makanan hotel yang kurang enak ini aku belajar, bahwa dua cara untuk mencintai hidup yang sebenernya penuh keindahan ini adalah menerima dan mencari sisi baiknya.
Selamat Sudah dengan Hebat Melalui Tahun Ini!
"2017 itu tahun yang tai banget." - seorang teman dekat
Tahun lalu, aku nulis untuk menutup tahun 2016. Tahun ini pun demikian. Aku nggak mampu untuk nge-post foto-foto berbagai macam momen di tahun 2017 di insta story karena selain karena males nyari fotonya, juga karena... ya udah yang lain aja yang ngelakuin hehe.
Dipikir-pikir, banyak banget yang terjadi di tahun 2017 ini.
Kalo biasanya "Wah kayaknya baru kemaren aku ini-itu", sekarang ngga ada pikiran demikian karena terlalu banyak yang terjadi dan semuanya memorable.
Dari skripsian, ulang tahun, sidang, ngejar biar bisa wisuda mei, ngejar biar bisa daftar S2, ke beberapa tempat bagus di Jogja, ikutan tes S2, keterima S2, operasi hidung yang sakit sampe bikin nggak bisa napas, blablablabla-----udah ah. Banyak pokoknya. Diinget-inget, tahun ini menyenangkan sekali. Banyak pengalaman yang udah kudapet dari yang paling bahagia sampai yang paling sedih, paling marah, paling kecewa, paling lucu--Tuhan beri lengkap.
Lagi-lagi, Tuhan beri lengkap momen dengan maknanya.
Di tahun 2017 ini, aku nggak hanya dapat pengalaman-pengalaman menyenangkan, tetapi juga pembelajaran yang luar biasa mendewasakan.
Aku belajar bahwa hal-hal baik dan buruk sama-sama harus diterima.
Hal-hal baik membuat kita semakin bersyukur dan respect sama Tuhan.
Hal-hal buruk membuat kita semakin kuat dan dekat dengan Tuhan.
Di awal tahun 2017, di masa-masa penerimaan ku terhadap kehilangan, aku pernah punya keinginan untuk bisa berbahagia sendiri. Aku memutuskan untuk nggak mau menggantungkan kebahagiaan di orang atau hal. Aku ingin bahagia karena itu keputusanku. Tapi kemudian, aku malah terlalu sibuk menggantungkan kebahagiaanku di mana-mana. Orang yang kusayang, benda yang kuinginkan, capaian yang ingin kutuju--sampe aku lupa dengan resolusi satu-satunya untuk tahun 2017. Sampai akhirnya, di sebuah siang di perpustakaan pusat beberapa minggu yang lalu, aku kecewa dengan sebuah kabar buruk. Kabar buruk yang kuterima setelah beberapa jam sebelumnya aku berdoa kepada Tuhan: Ya Allah, aku nggak tau apa yang akan terjadi ke depan. Aku mohon atur hidupku sebaik-baiknya. Kecewaku berlipat karena beberapa jam sebelumnya aku berdoa demikian. Tapi, aku mencoba menerima berita buruk tersebut. Aku sedih, kecewa, dan marah. Akhirnya aku menangis di perpustakaan pusat, di antara hasil pemeriksaan psikologis yang belum selesai dan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar untuk UAS. Aku nangis.
Menangis adalah caraku untuk menerima emosi negatif.
Selama menangis, Zahra menenangkanku. Aku merasa beruntung ada Zahra kala itu.
Selama menangis, aku berpikir, mencari penenang untuk diriku sendiri. Sampai akhirnya Tuhan Yang Maha Baik memberiku makna, bahwa sesedih-sedihnya aku dengan keadaan saat itu, aku harus percaya bahwa rencana Tuhan yang terbaik. Klise memang, tapi menenangkan. Akhirnya aku mendapatkan jawaban dari resolusi ku di awal tahun 2017, bahwa aku nggak bisa bahagia sendirian, aku berbahagia bersama Tuhan.
Di tahun 2017 ini, lagi-lagi Tuhan memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku yang kuajukan kepada-Nya di tahun 2016. Kenapa aku kadang merasa nggak pede sama diriku sendiri? Kenapa aku kerap merasa nggak berharga? Kenapa aku takut berlebihan kalau orang yang kusayang marah ke aku? Kenapa aku sedih berlebihan ketika aku mengalami kehilangan? Tuhan beri jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu di tahun ini, dengan cara-Nya yang mengejutkan. Dengan membuatku jatuh dan berantakan nggak karuan, sampai akhirnya aku mencari cara dan mencari bantuan untuk berdiri dengan lebih tegak.
Aku belajar, bahwa hal buruk yang kuterima bisa membuatku berpikir bagaimana agar masalah ini selesai dan bagaimana agar aku bisa bangkit lagi. Agar nantinya, jika ada masalah serupa, aku sudah lebih kuat.
Dengan menerima-menerima kejadian, emosi, masa lalu, dan pengalaman, aku belajar untuk menerima diriku sendiri. Aku belajar untuk memahami bahwa 'oh gini ya rasanya sedih karena hal ini, lalu aku bisa apa ya?' akan mengantarkanku ke 'oh aku akan melakukan ini untuk menyelesaikan masalah, berarti aku adalah orang yang begini ya.' hingga pelan-pelan aku bisa memahami dan membentuk diriku sendiri. Berat sekali memang, tapi pasti bisa.
Nggak hanya menerima, di tahun 2017 aku juga belajar untuk meyakini bahwa Tuhan sudah sayang sekali sama hamba-Nya dan yang diberikan-Nya adalah kebaikan untuk hamba-Nya. Bagiku, meyakinkan diri dengan keyakinan seperti itu nggak mudah. Karena kadang, setiap habis merasa yakin, Tuhan menggodaku dengan kejadian-kejadian yang mengujiku dengan keyakinan itu.
"Tuhan itu nggak kayak manusia, mbak. Tuhan lebih dari itu. Nggak pemarah kayak manusia." - seorang temanTuhan sungguh Maha Baik. Di antara dosa-dosaku yang nggak terhitung, Ia masih saja memberiku berkah. Mungkin bagi yang setiap hari bisa bernapas dengan lega, oksigen dan hidung yang sehat adalah sesuatu yang jarang untuk disyukuri. Tapi aku pernah mengalami nggak bisa napas hingga kepala pusing karena suplai oksigen ke otak kurang. Karena hal tersebut, aku sungguh-sungguh mensyukuri mudahnya bernapas dan oksigen yang Tuhan berikan.
Tuhan sungguh Maha Baik, Di antara dosa-dosaku yang nggak terhitung, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihat merapi dengan jelas, untuk melihat langit yang indah, untuk mendapat teman-teman yang baik, untuk mendapat makan gratis tiba-tiba, untuk bisa membuat orang lain senang, untuk bisa dirindukan orang lain, untuk bisa punya keluarga lengkap, untuk bisa berjalan dengan kedua kakiku, untuk bisa menyelesaikan tugas-tugasku, untuk diberi kesehatan, untuk bisa menikmati nasi padang, untuk bisa seneng banget karena liat video Tatan, untuk bisa berusaha mencari makna, untuk bisa menerima makna, untuk bisa berterima kasih, untuk bisa bersyukur. Tuhan Maha Baik.
Jadi, di tahun 2017 ini, jangan hanya berterima kasih pada tahun 2017 yang sudah memberikan banyak makna, berterima kasihlah kepada Tuhan yang sudah menunjukkan makna, dan yang paling penting kepada diri sendiri yang sudah berhasil melalui tahun ini dan menemukan makna.
Karena kadang kita lupa menghargai seseorang yang paling berjasa di hidup kita--diri kita sendiri.
Menikah: Happily Ever After?
"Beberapa waktu yang lalu aku sempet takut nikah.."
Kataku siang itu, di depan seorang sahabat yang sebentar lagi akan jadi istri orang. Sebelum ia menjawab, aku jadi ingat, bahwa sekitar dua hingga tiga tahun yang lalu, aku, adalah perempuan yang sangat menginginkan pernikahan karena aku capek dengan banyaknya tugas perkuliahan.
Dan detik ini, aku, perempuan yang pernah sangat ingin menikah dan pernah takut untuk menikah, kembali ingin menikah. Tapi dengan pikiran yang lebih rasional.
Di awal perkuliahan S1, aku sangat ingin menikah.
Membayangkan seorang laki-laki yang dengan sangat gentle menembung ke orangtuaku bahwa ia mencintaiku, kemudian kami menikah, dan hidup bahagia selamanya tanpa tugas-tugas kuliah apalagi tugas-tugas organisasi dan event. dah pokoknya yang enak dan membahagiakan akan terjadi setelah aku menikah. Begitu pikirku kala itu.
Hingga akhirnya, hidup memberi banyak pelajaran.
Begitu juga dengan buku-buku dan jurnal-jurnal penelitian.
Tapi baiklah, sebelum kita berkutat dengan teori-teori dan hasil-hasil penelitian, mari aku ajak kalian mundur ke saat aku menjadi asisten kelas Gangguan Mental.
Kala itu, setelah selesai mempresentasikan berbagai macam jenis gangguan mental. Bu Bo, menanyakan satu hal kepada kami, yang kurang lebih seperti ini:
"Kalau dilihat dari gangguan-gangguan tersebut, biasanya orang mulai mengalami gangguan karena adanya permasalahan sejak kapan?"
Nyaris serempak, seisi kelas menjawab "sejak anak-anak"
Iya, sejak anak-anak.
Padahal lingkungan anak-anak itu cenderung berkutat pada keluarga.
Jadi, memang iya. Orang-orang dengan gangguan mental kebanyakan penyebabnya ada di dalam keluarga.
Mudahnya begini saja,
Sebuah contoh; Ada orang yang nggak mudah mengutarakan perasaannya, akhirnya dia banyak menekan perasaannya atau mengabaikan. Ia bersikap demikian karena kultur di keluarganya yang kurang terbuka dengan mengutarakan dan menerima perasaan, apalagi yang negatif. (Apalagi) mereka yang laki-laki cenderung mengabaikan dan menekan perasaan negatif seperti sedih karena kultur melahirkan 'laki-laki nggak boleh nangis atau sedih'. Padahal laki-laki juga manusia, yang juga dikaruniai Tuhan perasaan sedih. Nah perasaan-perasaan yang banyak diabaikan ini bisa jadi bom waktu di kemudian hari jika nggak segera diselesaikan.
Kembali lagi ke bahasan kita di awal tentang pernikahan--
Akhirnya beberapa waktu kemudian setelah menjadi asisten, aku berkutat dengan buku-buku tentang keluarga dan pernikahan, juga jurnal-jurnal penelitian karena skripsiku bertema tentang pernikahan dan keluarga. Penelitian menyebutkan, perceraian sudah menjadi sesuatu yang 'biasa'. Oke, anggaplah aku mengambil literasi dari barat, tapi nggak menutup kemungkinan di Indonesia juga demikian. Meski aku yakin, pasangan-pasangan di Indonesia cenderung mampu mempertahankan komitmen, apapun motivasinya.
Ditambah ketika saat itu aku sedang patah hati, jadilah aku cukup takut untuk menikah. Apakah ada orang yang akan saling mencintai--tanpa bosan--tanpa saling menyakiti--untuk waktu selamanya?
"Memang kenapa kamu takut nikah?"
"Banyak masalah kayaknya. Aku ngerjain skripsi tu, takut-takut gitu, karena tau masalah pernikahan dan keluarga macem-macem."
"La, orang yang nggak nikah aja punya masalah."
Sederhana dan klise.
Orang yang nggak menikah pun juga punya masalah.
Kemudian aku melanjutkan kuliah dan menemukan kasus-kasus lainnya (khususnya tentang pernikahan dan keluarga). Beberapa orang yang kutemui, masalahnya berasal dari keluarga, dari orangtua. Orangtua yang bertengkar, orangtua yang bercerai, orangtua yang begini dan begitu. Seorang yang kutemui shock dan trauma karena melihat orangtuanya bertengkar, seorang yang lain juga demikian karena orangtuanya bercerai. Dan yang lain sebagainya--bermasalah karena melihat apa yang terjadi dengan orangtua dan keluarga.
Iya, aku takut.
Aku takut kalau tidak bisa membina keluarga dengan baik dan berdampak kepada anak-anakku.
Kemudian aku mikir, bukannya pertengkaran itu seharusnya biasa? Memperdebatkan hal kecil bukannya biasa? Namanya juga ada dua kepala dengan dua pengalaman yang berbeda, pastilah beda cara pikirnya, tapi kenapa ya kalo lihat orangtua berdebat atau bertengkar meski karena hal kecil kita jadi shock?
Iya, ada yang pernah mikir demikian?
Menurutku, pernikahan itu menyatukan dua kepala, dua hati, dua kebiasaan dalam satu rumah, dalam satu kesatuan. Susah? Pasti. Maka perdebatan dan pertengkaran seharusnya bukan menjadi sesuatu yang mengejutkan, meski seharusnya kita menghindari. Toh di teori psikologi sosial juga ada, namanya storming, sebagai salah satu fase pembentukkan kelompok. Tapi kenapa kita terkejut dan bisa shock jika melihat orangtua kita bertengkar?
Mungkin itu karena kisah-kisah membahagiakan tentang pernikahan yang sejak dulu kita nikmati. Dari Cinderella hingga Ande-Ande Lumut. Yang kebanyakan tentang perjuangan seorang perempuan melawan hidupnya yang sungguh menyusahkan kemudian menikah dengan laki-laki atau pangeran dari keluarga kaya, kemudian cerita berhenti di hari resepsi pernikahan. Membahagiakan? Pasti. Tapi kalau cerita dilanjutkan sampai mereka kakek-nenek? Pasti nggak mudah.
Mungkin itu.
Mungkin karena sejak kecil yang kita tahu bahwa menikah adalah gerbang menuju kebahagiaan yang abadi. Kalau sudah menikah semuanya jadi membahagiakan karena ada pasangan yang mencintaiku, akan melakukan apapun untukku, membantuku, mengertiku, dan lain sebagainya.
Padahal menikah itu adalah fase kehidupan.
Sama seperti anak SMA yang pengen banget kuliah di UGM contohnya, dia mikir 'wah kalo udah kuliah di UGM aku pasti seneng banget, semangat, bahagia.' Tapi ternyata sesampainya di ruang kelas, dia harus menghadapi fase hidup yang baru dan lebih menantang.
Sama seperti menikah,
Kita terlalu berekspektasi bahwa menikah adalah kebahagiaan yang di mana nggak ada kesedihan dan kesusahan di sana. Padahal untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya ya kita harus berjuang. Apalagi kita menikah.
Menikah yang adalah sunah Rasul.
Menikah yang merupakan separuh agama.
Menikah itu ibadah.
Ya pantes kalau cobaannya berat, orang pahalanya surga.
Iya, aku takut.
Aku takut kalau tidak bisa membina keluarga dengan baik dan berdampak kepada anak-anakku.
Kemudian aku mikir, bukannya pertengkaran itu seharusnya biasa? Memperdebatkan hal kecil bukannya biasa? Namanya juga ada dua kepala dengan dua pengalaman yang berbeda, pastilah beda cara pikirnya, tapi kenapa ya kalo lihat orangtua berdebat atau bertengkar meski karena hal kecil kita jadi shock?
Iya, ada yang pernah mikir demikian?
Menurutku, pernikahan itu menyatukan dua kepala, dua hati, dua kebiasaan dalam satu rumah, dalam satu kesatuan. Susah? Pasti. Maka perdebatan dan pertengkaran seharusnya bukan menjadi sesuatu yang mengejutkan, meski seharusnya kita menghindari. Toh di teori psikologi sosial juga ada, namanya storming, sebagai salah satu fase pembentukkan kelompok. Tapi kenapa kita terkejut dan bisa shock jika melihat orangtua kita bertengkar?
Mungkin itu karena kisah-kisah membahagiakan tentang pernikahan yang sejak dulu kita nikmati. Dari Cinderella hingga Ande-Ande Lumut. Yang kebanyakan tentang perjuangan seorang perempuan melawan hidupnya yang sungguh menyusahkan kemudian menikah dengan laki-laki atau pangeran dari keluarga kaya, kemudian cerita berhenti di hari resepsi pernikahan. Membahagiakan? Pasti. Tapi kalau cerita dilanjutkan sampai mereka kakek-nenek? Pasti nggak mudah.
Mungkin itu.
Mungkin karena sejak kecil yang kita tahu bahwa menikah adalah gerbang menuju kebahagiaan yang abadi. Kalau sudah menikah semuanya jadi membahagiakan karena ada pasangan yang mencintaiku, akan melakukan apapun untukku, membantuku, mengertiku, dan lain sebagainya.
Padahal menikah itu adalah fase kehidupan.
Sama seperti anak SMA yang pengen banget kuliah di UGM contohnya, dia mikir 'wah kalo udah kuliah di UGM aku pasti seneng banget, semangat, bahagia.' Tapi ternyata sesampainya di ruang kelas, dia harus menghadapi fase hidup yang baru dan lebih menantang.
Sama seperti menikah,
Kita terlalu berekspektasi bahwa menikah adalah kebahagiaan yang di mana nggak ada kesedihan dan kesusahan di sana. Padahal untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya ya kita harus berjuang. Apalagi kita menikah.
Menikah yang adalah sunah Rasul.
Menikah yang merupakan separuh agama.
Menikah itu ibadah.
Ya pantes kalau cobaannya berat, orang pahalanya surga.
Makanya dengan segala keberatan itu, kita harus bersiap-siap sebaik-baiknya.
Menyiapkan diri, memperbaiki diri, menguatkan diri.
Sama seperti anak SMA yang bisa kuliah di UGM tadi, dia menempa dirinya dengan belajar untuk SBMPTN, belajar dengan rutin, agar nanti waktu kuliah, dia nggak kaget dengan dunia perkuliahan yang banyak tugas.
Ya, mending kita memperbaiki diri dulu.
Belajar bangun pagi dan nggak tidur setelah subuh, belajar on time, belajar komunikasi agar lebih asertif, belajar manajemen konflik, belajar dengan maksimal, belajar agama, meningkatkan ibadah, melawan nafsu, belajar mengasuh anak, dan lain-lain sebagainya.
Nanti, kalau Allah sudah yakin bahwa kita siap, kita akan menikah di waktu yang tepat. Karena Allah yang paling tahu, kapan waktu yang tepat saat kita sudah siap.
Instead of, kita bergalau-galau karena belum juga menikah. Belum ada pasangan.
Ayolah, kita ini kuat. Nggak punya pasangan bukan berarti kita sendirian.
Ada Allah yang 24 jam menjaga dan menemani kita.
Yang membantu kita.
Yang mencintai kita.
Jadi, menikah itu memang bukan gerbang menuju kebahagiaan yang berarti nggak ada masalah sama sekali. Ekspektasi kita harus diubah, agar kita nggak kecewa kalau ada konflik. Menikah itu lorong yang panjaaaang sekali, untuk menuju kebahagiaan yang sebenar-benarnya--surga.
Menikah itu memang pasti membahagiakan, literatur pun sudah mengakui bahwa menikah akan memberi banyak dampak yang positif daripada mereka yang tidak menikah, tapi pasti ada cobaan. Yang bisa kita lakukan adalah bersama-sama dengan pasangan kita, membentuk tim yang kuat dan kompak, agar seperti apapun badai menerjang, kita tetap berdiri dan berjalan menuju level selanjutnya.
Menyiapkan diri, memperbaiki diri, menguatkan diri.
Sama seperti anak SMA yang bisa kuliah di UGM tadi, dia menempa dirinya dengan belajar untuk SBMPTN, belajar dengan rutin, agar nanti waktu kuliah, dia nggak kaget dengan dunia perkuliahan yang banyak tugas.
Ya, mending kita memperbaiki diri dulu.
Belajar bangun pagi dan nggak tidur setelah subuh, belajar on time, belajar komunikasi agar lebih asertif, belajar manajemen konflik, belajar dengan maksimal, belajar agama, meningkatkan ibadah, melawan nafsu, belajar mengasuh anak, dan lain-lain sebagainya.
Nanti, kalau Allah sudah yakin bahwa kita siap, kita akan menikah di waktu yang tepat. Karena Allah yang paling tahu, kapan waktu yang tepat saat kita sudah siap.
"Menikah itu ibadah yang juga ada waktunya. Sama seperti puasa Ramadhan. Waktunya ya di bulan Ramadhan. Kenapa harus buru-buru puasa kalau belum bulan Ramadhan?" - Sebuah artikel yang saya lupa banget baca di mana hhhh :(
Instead of, kita bergalau-galau karena belum juga menikah. Belum ada pasangan.
Ayolah, kita ini kuat. Nggak punya pasangan bukan berarti kita sendirian.
Ada Allah yang 24 jam menjaga dan menemani kita.
Yang membantu kita.
Yang mencintai kita.
Jadi, menikah itu memang bukan gerbang menuju kebahagiaan yang berarti nggak ada masalah sama sekali. Ekspektasi kita harus diubah, agar kita nggak kecewa kalau ada konflik. Menikah itu lorong yang panjaaaang sekali, untuk menuju kebahagiaan yang sebenar-benarnya--surga.
Menikah itu memang pasti membahagiakan, literatur pun sudah mengakui bahwa menikah akan memberi banyak dampak yang positif daripada mereka yang tidak menikah, tapi pasti ada cobaan. Yang bisa kita lakukan adalah bersama-sama dengan pasangan kita, membentuk tim yang kuat dan kompak, agar seperti apapun badai menerjang, kita tetap berdiri dan berjalan menuju level selanjutnya.
Perspektif strength family tidak mengabaikan permasalahan pada keluarga namun lebih berfokus pada masalah merupakan media untuk menguji ketahanan pada keluarga dan lebih fokus pada bagaimana keluarga menghadapi kesulitan yang terjadi pada keluarga mereka (DeFrain & Asay, 2008) yang nantinya akan membuat pernikahan menjadi lebih baik (Olson, dkk., 2011). Pernikahan dan keluarga yang kuat akan lebih mampu untuk menghadapi masa-masa sulit dibanding mereka yang tidak kuat (Olson, dkk., 2011). -- diambil dari skripsi saya sendiri.
Bersyukur dengan Kesalahan
Di salah satu tulisanku sebelumnya, aku pernah nulis bahwa saat ini aku sedang melanjutkan kuliahku. Dan teman-teman sekelasku adalah orang-orang yang berprestasi serta berpengalaman di berbagai bidang. Hal ini membuatku kadang takut dan nggak pede sama diriku sendiri. Takut salah, takut kurang, takut dikritik, dan berbagai macam ketakutan mahasiswa tanpa pengalaman yang nekat melanjutkan S2 setelah lulus S1.
And once, my best friend said to me:
"Jangan takut salah, apalagi kalau lagi proses belajar atau kuliah gini. Di sinilah tempatmu salah, dari salah kamu bisa belajar yang benar yang mana agar nanti ketika udah di dunia kerja, kamu udah tau yang benar dan bisa melakukan yang benar."
Wah bener juga.
Sekolah dan kuliah itu kan proses agar kita jadi orang pandai. Nggak usah selalu pandai dan benar selama kuliah, salah nggak papa. Karena dari salah kita bakal tau mana yang benar. Mau salah terus asal merefleksikan kesalahan selama proses itu menurutku pribadi nggak masalah. Karena koreksi dan refleksi dari kesalahan-kesalahan tersebut merupakan bekal kita di dunia nyata kelak.
Akhirnya aku cenderung terbuka pada kritik di proses perkuliahan ini (memang meski terkadang masih ada perasaan takut dan merasa bersalah saat dikritik). Aku maju untuk role play jadi konselor, menjawab pertanyaan, dan menyatakan pendapat lebih sering karena dari proses mencoba itu lah aku bakal tau di mana salah dan ketidaktahuanku. Karena bayar UKT mahal itu bukan untuk selalu menjadi sempurna dan memilih untuk nggak coba karena takut dilihatin orang-orang dan dikritik dosen, tapi untuk tau di mana kesalahan agar kelak nggak melakukan hal yang sama.
Bersyukurnya, teman-teman kelasku memberikan kritik tapi juga disertai dengan apresiasi. Dosen yang terkenal galak sekalipun saat memberikan kritik "Nggak papa, orang kita masih sama-sama belajar". Tepuk tangan dan acungan jempol bukan barang langka di kelas kami. Karena kami menghargai proses, menghargai keberanian untuk mencoba, dan tidak malu untuk memberikan pujian.
Belajar Mencintai
Hari ini diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk menemukan makna di mata kuliah Psikologi Transpersonal. Seperti biasa, hal-hal yang menguatkan diri diberi dan dibagi di mata kuliah ini. Bu Bo bilang kalau di Psikologi Transpersonal itu nggak dikenal dengan istilah psikopatologis. Orang yang 'terganggu' itu semata-mata karena lack of love atau kekurangan cinta.
Bu Bo juga bilang kalau sebenernya selama kita hidup, kita nggak akan mendapat cinta yang utuh. Pasti ada aja hal yang membuat cinta kita nggak utuh karena kekurangan cinta (lack of love) itu sebenernya merupakan hasil dari hubungan sosial kita dengan orang lain. Misalnya ada orang yang nggak diharapkan sama orangtuanya, orang yang ditolak sama kelompok, orang yang dikhianati, orang yang ditinggalkan, dan lain-lain.
Bu Bo juga bilang cinta yang nggak sempurna ini lah yang membuat kita belajar. Gangguan-gangguan karena kekurangan cinta ini yang membuat kita belajar. Menurutku pribadi, kekurangan cinta membuat kita belajar untuk berjuang menemukan lagi dan menemukan lagi hingga akhirnya kita merasa cukup dengan cinta yang kita miliki. Karena kata Bu Bo, orang yang nggak pernah merasa 'sakit', maka nggak akan mensyukuri saat sehat, dan dengan demikian dia nggak akan bisa cerita ke orang lain bagaimana enaknya jadi orang sehat.
Bu Bo bilang kalau orang yang nggak belajar dicintai maka akan sulit untuk mencintai diri sendiri. Tapi menurutku, apa bisa kita selalu menuntut orang lain untuk cinta sama kita agar kita bisa mencintai diri sendiri? Maka dari itu, pertanyaan tersebut dikirimkan Tuhan sepaket dengan jawabannya.
Setelah perkuliahan selesai, aku melakukan intake interview (bahasa awamnya: curhat) dengan seorang teman. Di akhir curhat, dia tanya kepada saya: "Menurut Lala sendiri, Lala tu orangnya seperti apa?" Lalu aku jawab beberapa kelemahanku yang mungkin belum pernah kuungkapkan ke orang lain. Lalu temanku itu bertanya lagi: "Oke, itu kelemahannya ya. Kalo kelebihannya?"
Dari pertanyaannya, kemudian aku menjawab bahwa aku cukup mampu menemukan makna dari masalah-masalah di hidupku. Dan ternyata dia menyetujui hal tersebut.
Apa aku sombong? Menurutku enggak.
Menurutku, aku sedang meng-apresiasi diriku sendiri. Aku sedang belajar mencintai diriku yang serba kekurangan ini tapi juga pasti serba memiliki kelebihan karena aku meyakini bahwa Tuhan menganugerahi diri kita dalam satu paket lengkap.
Maka, nggak ada salahnya kok untuk diam sejenak dan berpikir apa kelebihanmu, apa yang sudah kamu lakukan untuk menghadapi dunia yang jahat ini, untuk berterima kasih kepada dirimu sendiri, untuk memberi reward kepada dirimu sendiri, untuk melakukan hobimu setelah penatnya pekerjaan harian, untuk mengagumi dirimu sendiri, untuk meminta maaf kepada dirimu karena kamu terlalu sering mem-forsir dan menyalahkan dirimu, untuk berterima kasih kepada Tuhan atas dirimu yang begitu lengkap dan sempurna ini.
Jadi, siapa yang harus mencintai diri kita saat orang lain nggak mencintai kita?
Jawabannya ada di diri kita masing-masing ;)
"Orang yang mampu mencintai diri sendiri dengan kesadaran, tidak akan menyakiti dirinya sendiri" - Bu Bo
Kisah Pertama dari Ruang Kelas Magister Psikologi Profesi Klinis
14 Agustus 2017 silam Tuhan mengizinkan saya untuk belajar lagi tentang psikologi di magister profesi bidang klinis Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Memang untuk menjadi psikolog, kami harus melanjutkan kuliah selama kurang lebih (semoga kurang dan tidak lebih) 2,5 tahun.
Dari sekitar 180 orang yang melalui seleksi magister profesi bidang klinis, terpilih 34 orang penghuni ruangan D-304. Selain bersyukur luar biasa, saya merasa cukup heran mengapa saya bisa menjadi satu dari 34 orang-orang hebat ini. Nggak cuman heran sih, saya (kadang) merasa menjadi yang terbodoh dan ter-tidak berpengalaman di kelas.
Teman saya ada yang pernah kuliah di Eropa, banyak yang pernah bekerja, banyak yang pernah menjadi asisten psikolog, banyak yang pernah menjadi trainer, banyak yang skripsinya sangar, banyak yang hobi penelitian, ada yang pinter SPSS sampai buka jasa, ada yang dapet beasiswa, ada yang udah nikah dan punya anak, banyak yang tahun depan udah mau nikah, ada yang follower Instagramnya ribuan, dan lain sebagainya.
Dan saya di sini cuman anak kemarin sore abis wisuda lalu buru-buru kuliah S2 tanpa pengalaman di bidang Psikologi yang bisa diandalkan.
---
Kuliah di bidang Klinis ini sungguh menyenangkan bagi saya. Kami belajar berbagai macam pendekatan untuk melakukan asesmen dan intervensi. Yang lebih menyenangkan adalah kami berperan menjadi psikolog dan klien di berbagai pendekatan itu. Yang lebih lebih menyenangkan dan sekaligus menantang, dari awal kami berkomitmen untuk saling membuka diri, membuka masalah kami, membuka keresahan kami untuk bisa dijadikan bahan pembelajaran. Kami juga berkomitmen untuk sama-sama melupakan permasalahan itu saat kami sudah keluar dari kelas.
Katanya sih, membuka diri itu rasanya enak sekali.
Tapi ternyata berat luar biasa.
Saat itu kami belajar tentang teknik observasi dan wawancara dengan pendekatan Humanistik. Setelah belajar teori-teori yang-rasanya-udah-nggak-sabar-dipraktikin, kami dikelompokan menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan tiga orang. Satu menjadi 'psikolog', satu menjadi 'klien', dan satunya lagi menjadi observer. Posisi itu akan berputar setelah satu kasus selesai di-observasi dan wawancara. Jadi, yang tadinya menjadi psikolog kemudian menjadi klien, yang tadinya menjadi klien lalu menjadi observer, yang tadinya menjadi observer kemudian menjadi psikolog, begitu seterusnya hingga masing-masing kami merasakan tiga peran.
Selama kurang lebih setengah jam, kelas kami penuh air mata.
Termasuk klien saya saat saya menjadi psikolog.
Termasuk saya (pada akhirnya) ketika Bu Sofi (dosen saya) memegang punggung saya dengan lembut.
Kelas siang itu menjadi kelas pertama di mana kami berani membuka diri pelan-pelan kepada orang-orang yang baru kami kenal dan sungguh membuka diri itu tidak mudah. Beberapa teman mengaku mengalami sakit fisik pada malamnya. Bu Sofi pun berkata demikian 'jangan heran kalau nanti malam rasanya capek atau malah sakit, karena membuka diri itu memang berat. tetapi kalau sudah membuka itu rasanya enak sekali.'
---
Apa hubungan dua kisah yang saya ceritakan?
---
Setelah saling membuka diri, kecemasan, dan permasalahan, saya menjadi sadar bahwa semua orang sejatinya punya masalah dan kecemasan.
Yang pernah kuliah di Eropa punya masalah, yang pernah bekerja punya masalah, yang pernah menjadi asisten psikolog punya masalah, yang pernah menjadi trainer punya masalah, yang skripsinya sangar punya masalah, yang hobi penelitian punya masalah, yang pinter SPSS sampai buka jasa punya masalah, yang dapet beasiswa punya masalah, yang udah berkeluarga punya masalah, yang tahun depan udah mau nikah punya masalah, yang follower Instagramnya ribuan punya masalah, dan seterusnya dan seterusnya.
Bahkan saya kagum sama mereka yang luar biasa kuat dalam menanggung masalah dan keresehan tersebut. Sampai saya berpikir mungkin saya nggak akan kuat kalau saya lah yang diamanahi masalah dan keresehana tersebut.
Akhirnya saya meyakini bahwa kami ini sama saja. Sama-sama orang yang sedang sama-sama berjuang melawan masalah dan keresahan kami masing-masing. Sama-sama diamanahi Tuhan masalah yang sudah 'dihitung' kadarnya hingga sesuai untuk kami dan bisa kami maknai sebagai satu fase dalam hidup kami.
Saya mungkin memang belum berpengalaman banyak dalam bidang psikologi, belum berkeluarga, nggak suka penelitian, belum pernah kuliah di luar negeri, tapi saya berhasil melalui hidup saya, memaknainya, dan belajar dari masalah-masalah yang Tuhan amanahi kepada saya.
Jadi, saya nggak boleh merasa terbego di kelas lagi.
Karena Tuhan dan Semesta sudah adil dalam membagi jalan hidup bagi masing-masing kita.
---
"Kamu yakin kamu sehat?"
"Selama saya bisa bangkit dari keterpurukan, memaknai masalah saya, dan belajar darinya, saya merasa diri saya sehat, Pak."
- dalam wawancara seleksi magister profesi bidang Klinis beberapa waktu silam.
Dari sekitar 180 orang yang melalui seleksi magister profesi bidang klinis, terpilih 34 orang penghuni ruangan D-304. Selain bersyukur luar biasa, saya merasa cukup heran mengapa saya bisa menjadi satu dari 34 orang-orang hebat ini. Nggak cuman heran sih, saya (kadang) merasa menjadi yang terbodoh dan ter-tidak berpengalaman di kelas.
Teman saya ada yang pernah kuliah di Eropa, banyak yang pernah bekerja, banyak yang pernah menjadi asisten psikolog, banyak yang pernah menjadi trainer, banyak yang skripsinya sangar, banyak yang hobi penelitian, ada yang pinter SPSS sampai buka jasa, ada yang dapet beasiswa, ada yang udah nikah dan punya anak, banyak yang tahun depan udah mau nikah, ada yang follower Instagramnya ribuan, dan lain sebagainya.
Dan saya di sini cuman anak kemarin sore abis wisuda lalu buru-buru kuliah S2 tanpa pengalaman di bidang Psikologi yang bisa diandalkan.
---
Kuliah di bidang Klinis ini sungguh menyenangkan bagi saya. Kami belajar berbagai macam pendekatan untuk melakukan asesmen dan intervensi. Yang lebih menyenangkan adalah kami berperan menjadi psikolog dan klien di berbagai pendekatan itu. Yang lebih lebih menyenangkan dan sekaligus menantang, dari awal kami berkomitmen untuk saling membuka diri, membuka masalah kami, membuka keresahan kami untuk bisa dijadikan bahan pembelajaran. Kami juga berkomitmen untuk sama-sama melupakan permasalahan itu saat kami sudah keluar dari kelas.
Katanya sih, membuka diri itu rasanya enak sekali.
Tapi ternyata berat luar biasa.
Saat itu kami belajar tentang teknik observasi dan wawancara dengan pendekatan Humanistik. Setelah belajar teori-teori yang-rasanya-udah-nggak-sabar-dipraktikin, kami dikelompokan menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan tiga orang. Satu menjadi 'psikolog', satu menjadi 'klien', dan satunya lagi menjadi observer. Posisi itu akan berputar setelah satu kasus selesai di-observasi dan wawancara. Jadi, yang tadinya menjadi psikolog kemudian menjadi klien, yang tadinya menjadi klien lalu menjadi observer, yang tadinya menjadi observer kemudian menjadi psikolog, begitu seterusnya hingga masing-masing kami merasakan tiga peran.
Selama kurang lebih setengah jam, kelas kami penuh air mata.
Termasuk klien saya saat saya menjadi psikolog.
Termasuk saya (pada akhirnya) ketika Bu Sofi (dosen saya) memegang punggung saya dengan lembut.
Kelas siang itu menjadi kelas pertama di mana kami berani membuka diri pelan-pelan kepada orang-orang yang baru kami kenal dan sungguh membuka diri itu tidak mudah. Beberapa teman mengaku mengalami sakit fisik pada malamnya. Bu Sofi pun berkata demikian 'jangan heran kalau nanti malam rasanya capek atau malah sakit, karena membuka diri itu memang berat. tetapi kalau sudah membuka itu rasanya enak sekali.'
---
Apa hubungan dua kisah yang saya ceritakan?
---
Setelah saling membuka diri, kecemasan, dan permasalahan, saya menjadi sadar bahwa semua orang sejatinya punya masalah dan kecemasan.
Yang pernah kuliah di Eropa punya masalah, yang pernah bekerja punya masalah, yang pernah menjadi asisten psikolog punya masalah, yang pernah menjadi trainer punya masalah, yang skripsinya sangar punya masalah, yang hobi penelitian punya masalah, yang pinter SPSS sampai buka jasa punya masalah, yang dapet beasiswa punya masalah, yang udah berkeluarga punya masalah, yang tahun depan udah mau nikah punya masalah, yang follower Instagramnya ribuan punya masalah, dan seterusnya dan seterusnya.
Bahkan saya kagum sama mereka yang luar biasa kuat dalam menanggung masalah dan keresehan tersebut. Sampai saya berpikir mungkin saya nggak akan kuat kalau saya lah yang diamanahi masalah dan keresehana tersebut.
Akhirnya saya meyakini bahwa kami ini sama saja. Sama-sama orang yang sedang sama-sama berjuang melawan masalah dan keresahan kami masing-masing. Sama-sama diamanahi Tuhan masalah yang sudah 'dihitung' kadarnya hingga sesuai untuk kami dan bisa kami maknai sebagai satu fase dalam hidup kami.
Saya mungkin memang belum berpengalaman banyak dalam bidang psikologi, belum berkeluarga, nggak suka penelitian, belum pernah kuliah di luar negeri, tapi saya berhasil melalui hidup saya, memaknainya, dan belajar dari masalah-masalah yang Tuhan amanahi kepada saya.
Jadi, saya nggak boleh merasa terbego di kelas lagi.
Karena Tuhan dan Semesta sudah adil dalam membagi jalan hidup bagi masing-masing kita.
---
"Kamu yakin kamu sehat?"
"Selama saya bisa bangkit dari keterpurukan, memaknai masalah saya, dan belajar darinya, saya merasa diri saya sehat, Pak."
- dalam wawancara seleksi magister profesi bidang Klinis beberapa waktu silam.
Barang Pemberian
"Aku muter-muter mall sendirian nyari sesuatu buat kamu, tapi nggak nemu yang pas."
Suatu sore mendekati waktu maghrib, saya berkendara seorang diri di antara riuhnya jalanan Godean. Bagi yang kerap melewati jalan Godean di waktu sore, pasti tahu ramainya seperti apa. Ramai sekali. Sore itu saya dalam perjalanan menuju kosan dari rumah seorang kerabat.
Di tengah jalan, saya ingat bahwa besok ada seorang sahabat yang akan sidang skripsi. Sebagaimana sidang-sidang skripsi lainnya di kampus saya, memberi hadiah seperti bunga atau apapun (semakin ke sini, hadiah untuk sidang skripsi semakin kreatif) kepada teman atau kenalan yang berhasil melalui sidang skripsi biasa dilakukan. Apapun motivasi memberi hadiah untuk teman yang sudah melalui sidang skripsi, bagi saya memberi sesuatu tersebut merupakan bentuk simpati dan apresiasi.
Kala itu akhir bulan dan besoknya saya memang sudah waktunya pulang ke Semarang. Yang berarti bahwa duit saya mepet. Kemudian saya muter otak, enaknya memberi apa yang unik, bermanfaat, tapi tetep ramah di kantong. Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke Mirota Godean untuk beli beberapa snack yang akhirnya saya rangkai sendiri. Boleh lah ya.
Dalam proses muter otak, saya menyadari suatu hal.
Memberi sesuatu untuk seseorang itu nggak melulu tentang apa barangnya atau berapa harganya.
Bagi saya, proses mengingat orang tersebut, rasa ingin memberi sesuatu, mencari jawaban dari pertanyaan "barang apa ya yang cocok untuk dia? apa ya yang dia suka? dia suka warna apa sih? dia butuhnya apa?", menganggarkan uang saku kita untuk membeli barang tersebut, berusaha mencari barang yang cocok, usaha membungkusnya, mikir kata-kata yang sesuai untuk ucapannya, menyisihkan waktu untuk menemui orang tersebut dan memberikan hadiah tersebut, hingga yang diberi merasa senang dengan pemberian kita adalah lebih dari itu.
Bagi saya, usaha panjang pemberi hingga dapat membuat saya senang dengan barang pemberiannya lebih dari barang itu sendiri.
ps. terima kasih barang pemberiannya yang membuat saya mikir dan terima kasih sudah menjadi trigger untuk menulis (lagi).
ps. terima kasih barang pemberiannya yang membuat saya mikir dan terima kasih sudah menjadi trigger untuk menulis (lagi).
Bianglala dan Skripsi (2): Perpanjangan Tangan Tuhan bagian Dua
Ternyata pertolongan Tuhan nggak berhenti di hari saya selesai daftar sidang.
Besoknya, sekitar pukul sembilan, saya terbangun dari tidur paska subuh karena dering telepon dari ibu saya. Ibu saya menanyakan apakah saya benar-benar yakin akan sidang tanggal 26 di mana hari itu adalah hari terakhir pendaftaran wisuda untuk periode Mei. Karena satu dan lain hal, akhirnya ibu saya cukup memaksa saya untuk mengusahakan agar bisa wisuda di Bulan Mei. Ini adalah kali pertama ibu saya memaksa di sepanjang proses pengerjaan skripsi (dan wisuda).
"Mbak, coba bilang Bu Ani biar sidangnya bisa sebelum tanggal 26."
"Pekewuh Ma. Bu Ani nggak pernah susah ke Mbak Lala, masa sekalinya beliau minta tanggal sidang, mbak Lala masih protes? Lagian kemarin Bu Ani abis ngeluh karena sibuk banget pekan ini."
"Dicoba dulu. Mama udah berdoa. Mbak Lala kan belum coba, bilang alasannya kenapa Mbak Lala mau wisuda Mei. Mungkin Bu Ani mau ngerti."
"Maaf Ma. Mbak Lala nggak mau."
"Mbak, dicoba dulu. Yang penting kan berusaha, kalau misal nggak bisa ya sudah, diserahkan ke Allah."
Kemudian saya pekewuh juga sama ibu saya. Ibu saya tau betul kapan harus mengerti keadaan anaknya, tau kapan harus memaksa anaknya. Akhirnya dengan perasaan yang cukup ogah-ogahan, saya mengirim pesan ke Bu Ani, meminta agar Bu Ani berbaik hati meluangkan waktu agar saya bisa sidang sebelum tanggal 26. Saya pun nggak banyak berharap saat itu, karena saya tau betul jadwal Bu Ani udah padat sekali. Saya mengirim WA ke Bu Ani hanya untuk menyenangkan hati ibu saya.
"besok Jumat jam 11-13. Monggo. Silakan ke Pak Wagiman."
Cukup satu pesan dengan penjelasan mengapa saya mengejar wisuda di Bulan Mei dan Bu Ani dengan cepat membalas demikian. Sudah nggak ada alasan lagi untuk nggak bersyukur karena apa yang saya pikir bakal sulit, ternyata mudah sekali. Tuhan untuk kesekian kalinya mengabulkan doa Ibu saya.
Kemudian permasalahan berikutnya: Me-lobby Pak Wagiman.
Pak Wagiman adalah staf bagian akademik yang ngurus skripsi. Karena ngurus dari hal workshop skripsi sampe menentukan waktu sidang dan me-lobby dosen-dosen penguji untuk ratusan mahasiswa di fakultas saya, tentu kadang Pak Wagiman ini gampang-gampang syuse.
Sepanjang jalan dari kosan ke kantor akademik, saya muter otak agar Pak Wagiman berkenan mengabulkan permintaan ibu saya agar saya bisa sidang di hari Jumat yang notabene tiga hari lagi. Karena jika menurut sistem, minimal harus nunggu seminggu dari pendaftaran sidang sampai sidangnya.
Sampai membuka pintu ruang akademik, saya belum mendapatkan kata-kata pembujuk untuk Pak Wagiman. Namun ternyata saya nggak perlu kata-kata itu. Karena di meja Pak Wagiman, Bu Ani sedang me-lobby beliau.
Tuhan memang nggak memberikan saya ide untuk ngomong ke Pak Wagiman, karena Dia memberi lebih. Dia memberi jalan yang lebih baik. Mengejutkannya lagi, ternyata Pak Wagiman sedang menuliskan nama dan jadwal sidang saya di kertas pendaftaran sidang. Yang tadinya Rabu, 26 April 2017 menjadi Jumat, 21 April 2017.
Saya meluk Bu Ani.
Saya nggak meluk Pak Wagiman.
Secara resmi, saya sidang tanggal 21 April 2017.
Besoknya, sekitar pukul sembilan, saya terbangun dari tidur paska subuh karena dering telepon dari ibu saya. Ibu saya menanyakan apakah saya benar-benar yakin akan sidang tanggal 26 di mana hari itu adalah hari terakhir pendaftaran wisuda untuk periode Mei. Karena satu dan lain hal, akhirnya ibu saya cukup memaksa saya untuk mengusahakan agar bisa wisuda di Bulan Mei. Ini adalah kali pertama ibu saya memaksa di sepanjang proses pengerjaan skripsi (dan wisuda).
"Mbak, coba bilang Bu Ani biar sidangnya bisa sebelum tanggal 26."
"Pekewuh Ma. Bu Ani nggak pernah susah ke Mbak Lala, masa sekalinya beliau minta tanggal sidang, mbak Lala masih protes? Lagian kemarin Bu Ani abis ngeluh karena sibuk banget pekan ini."
"Dicoba dulu. Mama udah berdoa. Mbak Lala kan belum coba, bilang alasannya kenapa Mbak Lala mau wisuda Mei. Mungkin Bu Ani mau ngerti."
"Maaf Ma. Mbak Lala nggak mau."
"Mbak, dicoba dulu. Yang penting kan berusaha, kalau misal nggak bisa ya sudah, diserahkan ke Allah."
Kemudian saya pekewuh juga sama ibu saya. Ibu saya tau betul kapan harus mengerti keadaan anaknya, tau kapan harus memaksa anaknya. Akhirnya dengan perasaan yang cukup ogah-ogahan, saya mengirim pesan ke Bu Ani, meminta agar Bu Ani berbaik hati meluangkan waktu agar saya bisa sidang sebelum tanggal 26. Saya pun nggak banyak berharap saat itu, karena saya tau betul jadwal Bu Ani udah padat sekali. Saya mengirim WA ke Bu Ani hanya untuk menyenangkan hati ibu saya.
"besok Jumat jam 11-13. Monggo. Silakan ke Pak Wagiman."
Cukup satu pesan dengan penjelasan mengapa saya mengejar wisuda di Bulan Mei dan Bu Ani dengan cepat membalas demikian. Sudah nggak ada alasan lagi untuk nggak bersyukur karena apa yang saya pikir bakal sulit, ternyata mudah sekali. Tuhan untuk kesekian kalinya mengabulkan doa Ibu saya.
Kemudian permasalahan berikutnya: Me-lobby Pak Wagiman.
Pak Wagiman adalah staf bagian akademik yang ngurus skripsi. Karena ngurus dari hal workshop skripsi sampe menentukan waktu sidang dan me-lobby dosen-dosen penguji untuk ratusan mahasiswa di fakultas saya, tentu kadang Pak Wagiman ini gampang-gampang syuse.
Sepanjang jalan dari kosan ke kantor akademik, saya muter otak agar Pak Wagiman berkenan mengabulkan permintaan ibu saya agar saya bisa sidang di hari Jumat yang notabene tiga hari lagi. Karena jika menurut sistem, minimal harus nunggu seminggu dari pendaftaran sidang sampai sidangnya.
Sampai membuka pintu ruang akademik, saya belum mendapatkan kata-kata pembujuk untuk Pak Wagiman. Namun ternyata saya nggak perlu kata-kata itu. Karena di meja Pak Wagiman, Bu Ani sedang me-lobby beliau.
Tuhan memang nggak memberikan saya ide untuk ngomong ke Pak Wagiman, karena Dia memberi lebih. Dia memberi jalan yang lebih baik. Mengejutkannya lagi, ternyata Pak Wagiman sedang menuliskan nama dan jadwal sidang saya di kertas pendaftaran sidang. Yang tadinya Rabu, 26 April 2017 menjadi Jumat, 21 April 2017.
Saya meluk Bu Ani.
Saya nggak meluk Pak Wagiman.
Secara resmi, saya sidang tanggal 21 April 2017.
Bianglala dan Skripsi (1): Perpanjangan Tangan Tuhan bagian Satu
Sudah lama sekali ingin menulis tentang perjalanan saya menulis skripsi, akhirnya tergugah juga untuk ngetik ketika salah satu teman mengirim pesan pagi ini, "La, kapan nulis lagi?".
Tujuh bulan mengerjakan skripsi, Tuhan tidak hanya memberi saya pelajaran di dua halaman kesimpulan skripsi saya. Tuhan memberikan banyak sekali pelajaran yang luar biasa. Beberapanya akan saya tulis di blog saya.
Total halaman skripsi saya adalah sekitar 660 halaman (itu yang sudah direvisi agar tulisannya mengecil, aslinya mencapai nyaris 700 halaman). Karena memang dasarnya lemah, bolak balik dari kosan hingga tiga penjuru Yogya untuk mendatangi responden, mendengarkan mereka bercerita hingga total 17 jam, mengetik sebanyak 700 halaman, mencari diksi, merangkai kata agar membuahkan ratusan kalimat, mendengarkan 17 jam rekaman dan menyalinnya menjadi tulisan membuat saya kerap mengeluh bahkan menangis, Pernah suatu ketika, sepulangnya saya dari wawancara dengan responden (kala itu wawancara berlangsung selama 3,5 jam) perasaan saya jelek sekali. Bahkan kalo nggak salah saya sampe nangis. Padahal saya sedang nggak ada masalah apa-apa. Mungkin saya terlampau lelah dan mungkin juga emosi negatif responden ketransfer ke saya (Jadi bagi temen-temen yang mengeluhkan kenapa ke psikolog mahal padahal kerjaan psikolog cuman dengerin orang ngomong doang, saya yang cuman dengerin aja (nggak ngasih saran apa apa) capeknya bukan main, apalagi psikolog. Mendengarkan bukan hal mudah guys.)
Pengambilan data dengan metode wawancara berat bagi saya. Men-transkrip dan mengkoding data membutuhkan waktu sebulan bagi saya, Mengolah data dan melakukan pembahasan juga berat bagi saya. Karena bagi saya, setiap skripsi memiliki kesulitan dan keberatannya masing-masing.
Bagi saya, pengambilan data hingga bab empat adalah yang terberat. Tapi bagi teman yang lain, bab dua itu berat. Ada yang bab satunya nggak kunjung disetujui sama dosen pembimbing, ada yang pengolahan data nya harus ngulang, ada yang begini dan begitu. Bagi saya pula, sangat nggak etis untuk bilang "Bab 2 lama amat sih?" "Ambil data aja kok ngulang?" "Dari dulu masih bab 4?" Karena menurut saya, kesulitan itu berbeda-beda tiap orang dan tiap prosesnya.
Tapi saya percaya, setiap kesulitan itu sepaket dengan kemudahan.
Dan Tuhan 'memanjangkan' Tangan-Nya untuk membantu perjalanan skripsi saya.
Kedua orangtua saya nggak pernah menekan saya untuk urusan skripsi. Nggak pernah memberi saya target tertentu, nggak pernah dengan rese nanyain kapan skripsi saya selesai. Karena hal-hal itu, saya malah jadi yang nggak enak, Rasanya pengen segera nyelesaiin agar orang tua saya tenang. Kala itu saya punya target sendiri untuk menyelesaikan skripsi bulan Maret, saya cerita sama ibu saya bahwa saya punya target demikian. Tapi ternyata rencana Tuhan lebih baik,
Sore itu ibu saya menelepon untuk sekedar nanya saya sedang apa. Kemudian dengan lugunya beliau tanya "Mbak, jadi sidang Maret?". Ibu saya bertanya demikian karena saya pernah menjajikan, jadi saya sama sekali nggak sebel ditanya seperti itu di kala saya sedang burned out sekali dengan rekaman-rekaman wawancara yang membuat kuping saya panas. Saya hanya bilang maaf karena nggak bisa menyelesaikan di bulan Maret. Ibu saya mengerti dan hampir tidak pernah menanyakan hal itu lagi.
Saya jadi merasa terbebani ketika orangtua saya mengerti keadaan saya. Saya merasa nggak enak dan ingin sekali memenuhi keinginan tak terucap mereka. Dari situ, saya ingin sekali wisuda bulan Mei. Secara logika, saya nggak mungkin bisa wisuda di bulan Mei. Awal April saya masih menulis bab empat padahal paling lambat pendaftaran wisuda untuk periode Mei adalah 26 April. Untuk nunggu waktu sidang perlu seminggu. Intinya nggak mungkin lah.
Suatu malam ketika saya masih stres banget nulis bab empat, Ibu saya telepon dan (akhirnya) tanya-tanya tentang skripsi saya. Akhirnya, saya berkeluh kesah bahwa saya ingin sekali wisuda bulan Mei tapi skripsi saya nggak kunjung selesai. Ibu saya menasihati di antara derai air mata saya, "Dikerjain aja pelan-pelan Mbak. Mama nggak mau kamu cepet selesai tapi stres kayak gitu. Sambil ngerjain sambil berdoa. Semuanya diserahin sama Allah."
Nasihan yang sederhana. Tetapi membuat saya terpacu lagi.
Akhirnya saya berusaha secepat mungkin (tapi berusaha untuk nggak stres) untuk menyelesaikan skripsi saya.
Sabtu, 15 April 2017 akhirnya saya menyelesaikan bab 1-5.
Saya kirim WA ke Bu Ani, pembimbing saya. Saya minta agar skripsi saya di-review dan hari Seninnya saya minta bertemu.
Bu Ani ini adalah dosen pembimbing skripsi saya luar biasa. Beliau hampir selalu bisa kalau anak bimbingannya minta bertemu. Jika beliau tidak bisa di hari besok, beliau akan memberikan hari lain secepat mungkin. Beliau tidak pernah membuat saya menunggu lama. Paling lama, saya menunggu beliau itu sekitar 2,5 jam. Itupun karena saya terlambat. Biasanya, paling lama saya menunggu beliau sekitar setengah jam.
Maka ketika beliau membalasa WA saya dan menyatakan bahwa seminggu ke depan beliau sibuk, saya cukup shock. Awalnya saya sedih sekali karena kemungkinan saya akan gagal untuk wisuda periode Mei karena seminggu ke depan Bu Ani sibuk (notabene beliau juga tidak punya waktu untuk menguji saya). Kemudian saya ingat potongan nasihan Ibu saya "...semuanya diserahin sama Allah.".
Detik itu saya belajar ikhlas.
Saya ikhlas bahwa mungkin Allah belum mengizinkan saya untuk bertemu Bu Ani, belum mengizinkan untuk saya sidang secepatnya, belum mengizinkan saya untuk wisuda periode Mei. Namun di balik rasa ikhlas itu, saya masih saja menyelipkan doa agar Tuhan berbaik hati mengabulkan doa saya.
Mungkin selama 22 tahun saya hidup, rasa ikhlas yang saya rasakan kala itu adalah sebenar-benar rasa ikhlas. Saya ikhlas bahwa- "ya sudah mau gimana lagi, Allah Tau yang terbaik." tapi saya diam-diam masih berdoa agar permintaan saya dikabulkan, Meski saya tau bahwa sepertinya nggak bisa, tapi saya berdoa dalam keadaan yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
Sepulangnya dari bermalam minggu, Bu Ani tiba-tiba mengirimkan saya pesan,
"Saya sudah skim, cek lagi tata tulis, usahakan tidak ada judul meski sub judul berada di bawah halaman."
"Lengkapi dari halaman depan seperti skripsi yang lainnya."
15 April 2017, 9.41 PM.
Akhirnya skripsi saya di-acc.
Keesokan paginya, saya mengedit skripsi saya. Bersamaan dengan itu, saya mulai menyiapkan syarat-syarat untuk mendaftar sidang.
Ternyata bikin daftar pustaka, halaman, dan perintilan lainnya nggak gampang. Beberapa kali saya merepotkan seorang teman, Hilda namanya. Ia yang juga sedang merevisi skripsinya, harus sabar membalas pertanyaan-pertanyaan saya via chat sampai pada akhirnya dia menawarkan untuk membantu saya. Mungkin kalau Hilda nggak bantu saya siang itu, skripsi saya nggak bakal selesai di Senin pagi. Sampai Senin pukul sembilanan pun saya masih ngutak atik banyak hal. Padahal jam sembilan janjian ketemu sama Bu Ani (iya, akhirnya beliau mau menyempatkan waktunya beberapa menit untuk menandatangani kartu bimbingan agar saya bisa verifikasi hari Senin).
Karena belum selesai, saya nekat ke kampus untuk minta tanda tangan Bu Ani (tanpa bawa skripsinya). Ketemu Bu Ani pun di jalan menuju ruangannya, bukan di ruangannya. Setelah menandatangani dan mengobrol sebentar, Bu Ani bilang bahwa saya bisa sidang tanggal 26 karena hanya hari itu beliau sempat. Padahal tanggal 26 adalah hari terakhir pendaftaran wisuda. Saya mencoba ikhlas lagi. Ya sudah, berarti memang nggak sempat wisuda periode Mei.
Meski demikian, saya berusaha untuk daftar skripsi hari itu juga.
Setelah mendapat tanda tangan Bu Ani, saya ngebut untuk ngeprint (nyaris) 700 halaman skripsi saya. Nggak sebentar dan nggak sedikit (dan nggak murah huhu). Bawa dari fotokopian sampe ruangan mas Fuad bener-bener bikin tangan saya pegel. Setelah diverifikasi, saya ngeprint tiga bendel lagi untuk keperluan sidang (karena bendel yang tadi ada yang salah, saya nggak bisa pake untuk sidang). Karena di fotokopian tadi mahal, saya pindah tempat fotokopian.
dua bendel skripsi
Nah, saya sangat rekomen tempat fotokopian ini buat temen-temen.
Selain murah (banget), masnya baik dan sangat membantu. Tempatnya juga nyaman, ada AC dan wifinya. Namanya TRI EDI. Tempatnya di gang depan kehutanan (kalo tau bakso Pak Ateng, nah masuk gang situ). Lurus sebentar, nanti fotokopiannya di kiri jalan, warna merah, SANGAT SAYA REKOMENDASIKAN BUAT TEMAN-TEMAN YANG MAU NGEPRINT SKRIPSI DAN NGEPRINT LAINNYA. SIP SIP OKE!
Ketika sedang ngeprint dan mulai sadar bahwa tiga rim itu banyak sekali, tiba-tiba seseorang menepuk pundak saya,
"Lak?"
"Hilda? Mau ngeprint apa?"
"Ini nih--" Kemudian dia ngelihatin print-print an saya. "Kamu sendiri ke sini?" Tanyanya.
"Iya. Mau ma siapa lagi?"
"Emang bisa bawa segini? Kemarin aku aja berdua."
"Eh, nggak bisa ya?"
"Ya udah nanti aku bantu ya."
Sambil-nggak-paham-lagi-sama-kebaikan-Tuhan-yang-tiba-tiba-mendatangkan-Hilda, saya melanjutkan pekerjaan saya.
Lagi-lagi Tuhan memberikan pertolangan kecil tapi berarti bagi saya. Saat itu saya butuh tip x banget untuk menutupi identitas responden. Tempat fotokopian nggak punya, Hilda nggak punya, apalagi saya yang kalo kuliah modalnya bolpen hasil ngisi kuisioner. Tiba-tiba seorang mbak di pojokan menyodorkan tip x nya "Mbak, saya ada."
:)
Akhirnya saya selesai ngeprint.
Mas fotokopian nanya, "ini mbak bawanya gimana?"
Saya jawab, "Nggak tau Mas. Hehe."
Lalu mas baik hati itu ke bagian belakang dan membawakan dus kertas, menata skripsi-skripsi saya sedemikian rupa, dan membantu saya serta Hilda untuk meletakkan dus itu di motor Hilda. Padahal masnya berwajah sangar kayak Mad Dog, tapi baiknya luar biasa.
Senin itu, alhamdulillah saya berhasil mendaftar skripsi.
Subscribe to:
Posts (Atom)

