"Belajar Menjadi Manusia Seutuhnya"

"Coba Lak, jadi manusia. Yang nggak mengatur apa yang nggak kamu kuasai."


Beberapa waktu belakangan aku sedang mengalami sesuatu yang lebih dari overthinking, tetapi over-controlling dan over-expecting. Hahaha, ada nggak sih istilah itu sebenernya?

Anyway,
Banyak hal yang aku kejar, banyak hal yang aku inginkan, banyak hal yang aku merasa harus mendapatkannya. Sampai semua keinginan itu membuatku nggak karuan sendiri.

Kemarin, baru dua hari kemarin.
Aku menjalankan seminar proposal. Dan semprop itu memberiku insight yang mahal.
Beberapa orang tahu bahwa aku ingin cepat lulus, maka dari itu aku terkesan ngebut ngerjain bab 1-3 agar bisa segera semprop dan ambil data.

H-2 menjelang semprop, bukannya aku belajar untuk semprop, tapi aku malah cari subjek dan psikolog untuk penelitianku yang padahal belum tentu di-ACC sepenuhnya. Aku juga sibuk bantu share skala adekku, mikirin ini, mikirin itu, dan sebagainya. Mikirin dan kontrol semuanya seakan-akan aku punya kuasa terhadapnya.

Aku lupa menjadi manusia.

Sampai harinya, datanglah hari aku semprop. Harapanku awalnya-- semprop berjalan dengan lancar, sedikit revisi, bisa langsung nyicil ambil data. Eh ternyata enggak sesuai harapan.

Revisinya banyak dan besar. Selama semprop aku cenderung tenang, menjawab, meski beberapa kali meminta penguji untuk mengulang pertanyaan karena aku nggak hadir di situ. Kebanyakan sih, perasaanku datar karena saking messed up nya, aku cenderung flat.

Seusia semprop, mas Bima mendekatiku dan menyemangatiku. Begitu dosen keluar, aku nangis.

but my friends there. Mereka bilang "Revisi banyak itu nggak apa, you did your best."

Revisi banyak bukan satu-satunya hal yang kupikirkan saat itu, tetapi gimana cara revisinya, aku harus ngapain, yang kubetulin itu apa, aku bisa selesai cepet nggak ya, duit dari mana, dan blabla rasanya nampar-nampar pipiku.

Sampai akhirnya Ridho bilang, "Lak coba di-los. Tense mu tinggi banget."

"Aku percaya sih Rid, Tuhan bakal kasih jalan."
"Kamu ni percaya sama Tuhan, atau malah ngatur Tuhan? Coba jadi manusia."

Dari situ aku mencoba berprasangka kepada Tuhan, mungkin Tuhan ingin aku slow down dulu, nggak kontrol semuanya, dan pengen aku sadar bahwa aku sejatinya hanya manusia.

Kemakan bio twitter sendiri

Lalu dua hari ini aku mencoba untuk merevisi proposalku.
Banyak hal yang kuhindari tetapi malah harus kukerjakan, salah satunya adalah psikometri.
Sebagai mahasiswa psikologi yang rabun angka, sungguh psikometri adalah pelajaran tersulit buatku huhu. 

Barusan ini, aku ngeluh ke mas Bima.
"Aku pengen pinter deh, Mas. Sedih aku gini aja ga bisa-bisa."

Lalu kata Mas Bima,
"Lak, menjadi pintar itu limit. Kalau kamu pengen jadi pinter, ya kalo udah merasa pintar, berhenti kamu belajar. Tapi kalo kamu membuka ruang untuk mengembangkan diri ya nggak akan selesai."

Lagi-lagi aku belajar untuk menjadi manusia seutuhnya.
Tadinya aku cukup sedih karena merasa nggak pintar psikometri, tetapi sedikit demi sedikit aku merasa lega karena aku bodoh psikometri dan orang bodoh akan terus belajar.

Jadi inget bio twitternya Gus Mus

Dari dua kejadian tersebut aku meyakini bahwa aku akan terus belajar menjadi manusia seutuhnya.
Manusia yang sekedar mahluk, yang memang tidak diberikan kuasa untuk mengontrol apapun terutama mengontrol Tuhan, manusia yang memang kurang, manusia yang akan terus belajar dan berjuang hingga diperkenankan untuk menginjakkan kaki di tempat kembali.

Papa dan Islam yang Penuh Kasih Sayang

"Mas Agus ini, sering menyenangkan hati orang lain tanpa memperhatikan dirinya sendiri."


Salah satu pelajaran yang aku dapatkan dari sakit hingga kepulangan papa adalah tentang mengasihi orang lain. Sejak papa sakit, papa menghabiskan waktunya di rumah bersama mama. Apakah mereka berdua kesepian? Aku pikir enggak.

Ketika papa dirawat di rumah sakit, setiap jam bezuk, pasti selalu ada teman papa atau teman mama yang datang menjenguk. Bahkan, beberapa teman papa nekat bohong ke satpam agar bisa masuk untuk menjenguk di luar jam bezuk.
Ketika papa dirawat di rumah, setiap hari selalu ada yang datang berkunjung ke rumah dan nggak cuman satu kali atau satu orang. Minimal tiga lah.

Aku tahu papa punya buanyak teman. Buanyak. Tapi aku nggak nyangka hingga sebuanyak itu.

Apalagi saat papa berpulang.
Call me lebay, but I swear.. terlalu banyak yang datang hingga satu gang penuh oleh kerabat.
Nggak hanya satu gang, bahkan mobil-mobil terparkir hingga hampir keluar perumahan.
Solat jenazah udah kayak solat Jumat.
Dan, terlalu banyak yang benar-benar menangis hingga meraung-raung karena menyesal belum sempat bertemu papa.

People keep telling us, "Papamu orang baik. Aku yakin papamu khusnul khatimah.", "Papamu pernah bantu aku.", "Wah saya kangen dipanggil Pak Agus dari jauh, suaranya banter"--dan segala kebaikan papa disebutkan.

Dari berbagai kejadian tersebut, aku baru benar-benar menyadari bahwa papa adalah orang yang baik dengan sesama.

Papa bukan muslim yang ibadah terus. Ibadah yang bisa dilakukannya, ya dilakukan dengan maksimal. Sesederhana itu. Tapi hubungan sosialnya ternyata sebaik itu. Kasihnya kepada orang lain ternyata setulus itu. Papa nggak pernah menghakimi orang karena perbedaan. Papa bersahabat dengan mereka yang tidak bertuhan hingga mereka yang dekat dengan Tuhan. Papa bersahabat dengan mereka yang kyai hingga pendeta. Papa bersahabat dengan siapa saja dan senang untuk melihat sisi baik orang lain, meski hanya orang itu punya-semangat-kerja.

Seperti biasa, Tuhan suka sekali mengejutkanku. Ketika aku sedang banyak merenungi hubungan sosial Papa, Tuhan mengantarkanku pada hal-hal yang menguatkanku bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan hubungan sosial, Islam adalah agama yang berbasis kasih dan kebaikan. Bukan hukum dan ibadah semata.

Tiba-tiba Tuhan mempertemukanku dengan buku Dari  Allah Menuju Allah, kemudian vlog-vlog Habib Husein, teman-teman yang bisa diajak diskusi, kyai yang menegaskan bahwa 'menebarkan salam kepada siapapun (tidak memandang SARA)' adalah ibadah yang disenangi Tuhan, dan lain sebagainya.

Papa memang tidak pernah menyuruh kami untuk mengasihi orang lain. Tapi kami belajar dari sikap papa.
Papa bukan ayah yang hobi nuturi atau memberikan nasihat. Tapi kami belajar dari kejadian yang dialami papa.
Papa bukan muslim yang sehariannya digunakan untuk melakukan ritual ibadah. Tapi kami belajar dari kehidupan sosial papa.
Kami belajar dari papa bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih, cinta, dan Rahmatan Lil Alamin.

"Kalau mau ngasih orang, kasihlah barang yang mereka nggak bisa beli sendiri."

Hingga akhirnya, hati papa sudah lelah dan Tuhan ingin papa kembali.




PS.
Jika kamu membaca ini dan kamu Muslim, aku boleh minta Al Fatihah untuk papaku?
Jika kamu beragama lain, tentu aku juga minta doamu untuk papaku ya. 

Tentu, jika kamu berkenan :)

Talking About Ex and Whatever

"Jangan malu, Lak. Semua itu kan yang membentuk kamu sampe sekarang ini."
Dalam perjalanan ke Semarang, aku mbatin, "Di tahun 2018 ini aku udah melakukan perubahan apa ya? Kayaknya kok nggak ada bedanya, jadi nggak ada ide untuk nulis."
Mikir dan terus mikir sampai akhirnya aku ingat bagaimana aku yang dulu; dulu itu ya mungkin 1-beberapa tahunan yang lalu.

I was suck at relationships. Any relationships.

Diingat-ingat, banyak hal yang sengaja kulakukan yang sebenarnya untuk tujuan melindungi diri tetapi malah nyakitin orang lain. Playing victim, being offensive, sengaja ngomong nggak enak biar orang lain merasa bersalah, dan bla-bla-bla. Sampai akhirnya aku sadar, hal-hal seperti itu memang kadang muncul tanpa diminta dan mungkin perilaku tersebut merupakan kompensasi dari diriku yang belum stabil. 

Aku ingat, my ex and I sering berdiskusi tentang playing victim, double standard, offensive, kesel sama satu orang dan berdampak ke lainnya, dan sikap-sikap tidak baik dalam berhubungan lainnya; dan bagaimana cara mengatasinya. Ngga hanya dengannya, aku juga berdinamika dengan keluarga,  teman-temanku, klien, orang yang nyipratin air kubangan ke aku di jalan, warganet, dan lain sebagainya. Mungkin kalau aku nggak berdinamika bersamanya dan ngga menyikapinya dengan dewasa, aku nggak akan sadar bahwa sikap-sikap itu kurang tepat. Kadang emang sakit hati sih. Namanya juga berkonflik. Tapi kemudian aku analisis, kenapa aku seperti itu? Apa tujuanku bersikap seperti itu? Hal apa yang menyinggung di diriku ketika mereka kritik aku seperti itu?

Meski, sampe sekarang aku kadang masih being suck at people, paling nggak aku sudah tahu ada yang salah dan tahu bagaimana kontrol diri agar nggak semena-menan sama sikapku.


Hal itu membuatku bersyukur dengan apa yang sudah kulalui selama ini.

Meski rasanya nggak enak (dikritik, push ourselves to get solutions, etc), tapi kalo nggak ada kejadian itu aku nggak belajar.
Meski my ex, keluarga, dan teman-temanku ngga menasihatiku secara tersurat tentang apa yang harus aku lakukan, tapi mereka mengajariku banyak hal melalui pengalaman.

Aku selalu percaya, pertemuan kita dengan siapapun pasti ada arti dan pelajarannya. Aku selalu percaya bahwa nggak ada yang kebetulan, termasuk pertemuan dan pengalaman.

Jadi, terima kasih untuk siapapun yang sudah berkontribusi dalam proses pendewasaanku.
Terima kasih diriku. Terima kasih Tuhan.

Mari kita hadapi 2019 dengan lebih baik.



Memberi Kasih Melalui Terima Kasih

"Nggak apa sih kalo kamu mau dateng ke Yogya, tapi kamu tahu gambaran aktivitasku di hari-hari itu. Aku nggak bisa ngajak kamu ke mana-mana."
"Nggak apa, aku temani kamu ngerjain laporan aja."
 "Baiklah. Terima kasih ya sudah mengerti."

Suatu malam, aku mengobrol dengan Mukti, temanku sedari SD, melalui aplikasi chatting. Obrolan kami dimulai dari tidak-bisanya-dia-main-ke-Yogya-sebelum-dia-berangkat-kerja-ke-Sumatera sampai akhirnya Bianglala-berkeluh-kesah. Di akhir percakapan kami, aku bilang, "Makasih banyak ya Muk, sudah mau tak curhatin.", lalu dia mengatakan hal sederhana (yang mungkin cenderung iseng) tetapi menjadi insight ku untuk nulis tulisan ini:
"Kalo temanan sama anak psikologi tu gini ya, apa-apa diapresiasi."
Em.

Padahal cuman ucapan terima kasih.
Tapi kemudian aku mulai flashback ke beberapa kejadian akhir-akhir ini. Dipikir-pikir, beberapa waktu belakangan aku lebih banyak bilang terima kasih, apalagi jika dibandingkan dengan maaf. "Terima kasih sudah mengerti.", "Terima kasih sudah menunggu.", "Terima kasih sudah menjawab", "Terima kasih sudah terbuka.", "Terima kasih sudah tidak merokok di depanku.", "Terima kasih sudah memaafkanku.", "Terima kasih sudah berprasangka baik." dan terima kasih-terima kasih lainnya.

Ternyata bilang terima kasih itu rasanya nyaman dan terapeutik buat diriku sendiri. Di dalam persepsiku, aku merasa orang lain memberiku kasih dan aku menerimanya. Menurutku kasih itu luas dan mewakili banyak hal. Termasuk kebaikan-kebaikan kecil seperti mengerti, terbuka, menunggu, sampai yang besar seperti memaafkan. Dengan mengucapkan terima kasih, aku merasa kasih dari orang lain sampai kepadaku dan aku sangat mengapresiasinya. Alhasil, orang yang kuberi ucapan terima kasih juga merasa mendapatkan kasih karena kebaikannya diapresiasi.

Sederhana, tetapi menebarkan cinta. Bisa mulai kita coba. ;)
 
Tulisan sederhana ini aku dedikasikan untuk Mukti, saingan waktu SD yang akhirnya menjadi teman super baik sampai sekarang. Good luck di Sumatera, jangan lupa balik Semarang dengan membawa seseorang yang bisa kamu kenalkan ke aku. HAHAHA!

"Kapan Nikah, Lak?" dan Pertanyaan-Pertanyaan (yang Terkesan) Menyakitkan Lainnya

Mungkin sekitar empat atau lima tahunan lalu, seorang yang tidak saya kenal bertanya kepada saya, "Kuliah psikologi tuh entar kerjanya apaan, sih?". Sebagai mahasiswa super baru yang belum banyak tahu ilmu apalagi profesi dengan defense mechanism yang cukup tinggi berkata, "Ya.. bisa di mana-mana. Bisa kerja di advertising. Kan pake ilmu Psikologi bisa tau gimana caranya agar iklan bisa masuk ke alam bawah sadar manusia.". Lalu orang yang tidak dikenal tersebut bilang, "Wuuuusss." dengan nada yang kala itu saya merasa dia agak menghina. Lalu saya tersinggung, lalu saya nulis di blog. Saya bilang bahwa saya heran kenapa ada orang yang nggak tahu lulusan fakultas Psikologi kelak bisa bekerja sebagai apa.

Kemudian empat tahun-lima tahunan setelahnya, saya mendapat pertanyaan-pertanyaan yang biasa didapat oleh orang seusia saya:

"Kapan lulus?"
"Kenapa lanjut kuliah, kenapa enggak kerja?"
"Kuliah mulu, kapan cari duitnya?"
dan tentu saja, "Kapan nikah?"

Kita semua tahu, bahwa kita nggak akan berhenti untuk ditanya oleh sosial. Sosial juga ngga akan berhenti untuk nanya kita. Isu pertanyaan-yang-terkesan-menyakitkan ini kembali panas beberapa waktu terakhir karena saya berada di usia yang rawan ditanya dan kemarin lebaran. Akhirnya, banyak orang di media sosial menyatakan bahwa 'Mbok udah, kalo mau basa-basi tu jangan yang menyakitkan.", di sisi lain ada pula netizen yang berpendapat, "Kalau memang mereka cuman mau nanya gimana? Masa nggak boleh? Kan perhatian?"

Tapi siapalah kita yang bisa mengontrol sosial?
Satu-satunya yang bisa kita kontrol adalah diri sendiri, bukan?

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah kutipan di linimasa twitter saya,
"Semakin kamu enggak kenal dirimu sendiri, semakin terbuka kemungkinan omongan orang lain akan menyakiti hatimu." - @adjiesantosoputro

Saya mikir lama untuk bisa mencerna kutipan itu.
Sampai akhirnya siang tadi ketika sedang berdiam diri saya mendapatkan sebuah insight.

Saya awalnya mikir, kenapa orang kok mudah tersinggung dan marah hanya karena pertanyaan?
Ngga usah orang lain lah, saya aja gampang tersinggung kok.
Saya jadi ingat kejadian empat-lima tahunan lalu di mana saya bisa setersinggung itu ketika ada orang nanya apa kerjaan lulusan Psikologi, kenapa ya? Sedangkan kalau dibandingkan dengan saya yang sekarang, kalo ada yang nanya "Nanti kalau sudah lulus mapro, kamu mau kerja apa?" saya akan sangat antusias untuk menceritakan cita-cita saya.

Nah itu.

Mungkin karena dulu saya belum kenal.

Saya belum kenal dengan diri saya sendiri. Saya punya kelebihan apa, punya potensi apa, kekurangannya apa, suka bekerja dengan kelompok atau sendiri, saya belum sepenuhnya kenal. Meski saat ini pun saya masih belajar untuk kenal dengan diri saya sendiri,

Saya belum kenal dengan apa yang sedang saya jalani. Bukan berarti sekarang saya sudah kenal sepenuhnya dengan Psikologi, tetapi paling nggak, Lala yang sekarang sudah jauh lebih kenal dengan Psikologi jika dibandingkan yang dulu.
Lala yang dulu masih meraba-raba juga sebenarnya kelak lulusan Psikologi bisa kerja sebagai apa ya? Gajinya banyak nggak ya? Bisa bermanfaat nggak ya? 

Lala yang dulu juga belum kenal dengan target-target hidupnya.
Belum tahu, abis lulus mau apa, pengen nikah usia berapa, pengen menggapai apa saja. Akhirnya, ketika orang lain bertanya, bawaannya kesel karena mungkin di dalam diri ada pertanyaan juga, "Kenapa aku nggak tahu jawabannya sih? Kan itu tentang diriku sendiri?", tapi namanya manusia ya... yang ada kita malah melakukan defense mechanism dan yang muncul, "Lah, kok nggak sopan sih nanyanya?", "Lah masa nggak kayak gitu ditanyain sih?"

Mungkin :)

Kembali ke sebuah kutipan dari Adjie Santosoputro tadi. Barangkali, jika kita sudah kenal dengan jelas tentang diri kita, sudah kenal jelas tentang lingkungan kita, sudah kenal dengan jelas tujuan hidup kita, akan semakin mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial. Contohnya:

"Lala kapan nyusul kakaknya nikah?"
"Nanti Om, Lala mau selesaiin S2 dulu."
"Lho anak Om ni, bisa kok kuliah S2 sambil nikah."
"Iya Om, tapi Lala merasa sepertinya kurang mampu untuk melakukan keduanya bersamaan."

Nah, karena Lala sudah tahu bahwa kuliah S2 nya mungkin nggak sama dengan kuliah S2 lainnya, sudah kenal dirinya yang masih suka kewalahan ngurusin diri sendiri (apalagi ditambah tugas, apalagi kalo nikah huhu), sudah tahu target hidupnya sendiri (pengen segera menyelesaikan kuliah dulu), maka Lala bisa menjawab dengan suka cita tanpa ada (kalopun ada mungkin lebih sedikit) perasaan tersinggung.

Jika kelak ternyata target atau cita-cita Lala ngga sesuai dengan kenyataan gimana dong?
Namanya juga hidup. Hidup kan seninya menerima dan melepaskan, tho?

Membantah Bianglala di tahun 2016

And one day, someone will knock my door and say "Home, I'm home."
Seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah rumahnya. Aku adalah tempat di mana ia kembali dan blablabla. Ya, kamu tau kan maksudku. Aku pun demikian, di tahun 2016 aku sangat menyukai konsep rumah itu ada pada seseorang yang kepadanya aku merasa sangat nyaman. Entah orangtua, adek, pasangan, teman, dan lain sebagainya.

Tapi di tahun 2018 ini dengan tegas aku membantah diriku sendiri tentang konsep rumah adalah 'orang tempat kita berpulang'.

Pikiranku bertumbuh dan berkembang seiring dengan pengalaman-pengalaman yang aku terima dua tahun ini. Aku banyak membaca bahwa ternyata rumah itu bukan orang lain, rumah itu diri ku sendiri. Aku mengalami pengalaman di mana tempat ternyaman itu seharusnya adalah diriku sendiri, bukan orang lain. Aku menyadari bahwa tempat seharusnya aku mengadu dan bergantung adalah kepada Tuhan dan kemudian diriku sendiri, bukan orang lain.

Orang itu dinamis, kata seseorang di twitter. Ah bener juga.
Barangkali saat ini dia begitu nyaman dan memahamiku tapi siapa yang tahu kalau besok dia sudah tidak nyaman lagi? Sedangkan diriku sendiri adalah yang paling memahamiku dan satu-satunya yang bisa aku kontrol.

Tetapi sebenernya, konsep rumah adalah orang lain dan rumah adalah diri sendiri adalah dua konsep yang nggak bisa kita samakan sepenuhnya. Aku nggak bohong bahwa kadang aku butuh orang lain yang bener-bener membuatku nyaman. Tapi di luar itu, seharusnya tempatku 'berpegangan' secara utuh adalah diriku sendiri (tentu bagiku Tuhan nomer satu).

Dengan pemikiran yang berubah ini, aku jadi lebih siap jika sewaktu-waktu orang lain akan mengecewakanku, karena aku belajar untuk tidak bergantung sepenuhnya kepadanya.

Anyway, dengan berubahnya pikiranku ini, aku merasa aku bertumbuh. Dengan membantah diriku sendiri di masa lalu ini aku merasa aku berkembang. And I'm proud of me. Tulisanku di tahun 2016 tentang rumah adalah sosok orang lain tidak aku hapus karena dialah salah satu saksi perkembangan dan pertumbuhan pikiranku.

Dari sini juga aku belajar tentang perbedaan opini. Jika ada orang yang opininya berbeda denganku, bisa saja karena posisi perjalanannya berbeda denganku. Sehingga saat ini, penerimaanku bisa lebih luas.


PS. Bisa saja kelak, pemikiranku tentang hal ini akan berubah dan terus berubah.

Perjalanan Mencari Passion

Pernah dalam suatu masa di hidup saya di mana saya kehilangan arah.
"Bener ngga sih Psikologi itu passionku?"
"Kok aku nggak suka ya dengan penelitian psikologi?"
"Kok males ya baca jurnal penelitian?"
"Kayaknya kalo udah lulus aku pengen wirausaha aja."
"Aku nih bener nggak sih kuliah di sini?"


Saya lupa kapan tepatnya, tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut nggak terjawab sampai waktu yang sangat lama. Saya sempat bosan sekali belajar Psikologi. Kayaknya kok ngga semenarik ketika saya benar-benar menginginkannya saat SD dulu.


Kata seorang teman SD, ketika SD dulu saya pernah bilang kalo pengen jadi psikolog. Kala itu tepat setelah saya mengabarkan kepadanya bahwa saya diterima di Fakultas Psikologi UGM. "Wah sesuai cita-citamu sejak SD ya, La." Katanya. Oh ya? Bahkan saya saja lupa. Kedua orangtua saya kuliah di jurusan Psikologi, mungkin saat itu saya ingin menjadi psikolog karena kala itu profesi psikolog masih jarang sekali dan nampak mengasyikan.

Blablabla, saya berjuang keras sekali untuk bisa sampai sini.
Saya bersekolah di sekolah-sekolah yang dianggap bisa menjadi jembatan saya ke UGM (Oh ya, ketika SMP saya pernah punya cita-cita kuliah di Jogja meski saat itu saya ngga tau kuliah di Jogja itu seperti apa). Yang menurut saya cukup ekstrem adalah masa-masa SMA di mana tekanan akademis di SMA saya (bagi saya) sangat berat. Entah di kelas berapa, saya bego banget matematika (iya sebenernya saya kurang mampu matematika). Saya bisa les di beberapa tempat dengan beberapa guru hanya untuk menghadapi ulangan matematika. Pernah saya les jam empat pagi untuk menghadapi ulangan jam delapan pagi. Se-ngga pede dan se-bego itu. Hingga pernah suatu saat, nilai saya di atas KKM (KKM di sekolah saya untuk matematika adalah 78), saya meluk guru matematika saya, "Bu nilai saya di atas KKM!" dan Bu Ning yang baik hatinya membalas pelukan saya, "Tu kan, kowe ki iso!".


Anyway, kalo dipikir-pikir, buat apa pelajaran integral untuk calon psikolog ini? Nggak ada. Tapi saya belajar, kadang untuk bisa mencapai apa yang kita inginkan, harus melewati hal ngga enak dulu. Apapun itu. Akan digunakan atau nggak hal itu di keinginan kita, pokoknya kita harus bisa aja. Mungkin itu sama kayak ujian apakah kita seniat itu untuk mendapatkan keinginan kita. Terima kasih matematika.


Saat kuliah S1, saya menemukan diri saya berkali-kali bertanya, apakah ini yang cocok denganku dan apakah ini yang aku mau?
Sampai akhirnya saya mengalami masa-tidak-tahu-harus-bermimpi-apa. Saya melihat beberapa teman sudah concern dengan kesukaannya masing-masing dan saya masih di sini-- mengerjakan skripsi dengan hasrat naik turun. Kadang ngerjain karena tertarik, kadang ngerjain karena harus ngerjain aja. Sempet down banget dan kebingungan.

Setelah menyelesaikan studi, saya nggak langsung memutuskan untuk "Oke, aku lanjut S2.". Meski padahal ibu saya sudah memburu-buru sidang hanya agar saya bisa wisuda mei agar saya bisa lanjut S2 di tahun itu. Padahal, saya belum sepenuhnya mau untuk S2. Di samping harganya mahal, ya karena harganya mahal. Sebenernya karena itu.

Tapi memang ya, Tuhan Maha Membolak-balikan hati. akhirnya hati saya teguh untuk lanjut S2.

Bla-bla-bla-urus sanasini-keterima-belajar-blablabla.

Akhirnya saya nemu di mana asyiknya Psikologi.

Asli saya baru ngerasain mengerjakan dan mendalami passion itu di S2 ini. Saya baru paham di mana enaknya psikologi di S2 ini. Baru excited ketika baca jurnal, ketika denger kasus, ketika pengen tau ini-itu, ketika pengen meneliti, ketika pengen belajar karena suka bukan semata-mata karena nilai ya di S2 ini. Padahal yang dipelajari hampir sama dengan di S1. Tapi entah, rasanya bener-bener beda.

Dan malam ini, ketika sedang membaca GRIT, saya menemukan line yang bener-bener tepat menggambarkan apa yang saya alami.

Di bagian minat, dijelaskan bahwa sebenernya passion atau minat itu bukan yang sekejap mata muncul. Kita sering mendengar orang bilang bahwa "Duh kalo nggak ngerjain yang bukan passion-ku tu aku ngga bisa." Padahal ya ada masa dalam hidup mereka sebelumnya ketika merek mampu melakukan hal lain*. Ambilah contohnya diri saya sendiri, saat ini mungkin saya bilang "Aku nggak bisa melakukan hal lain selain Psikologi." Padahal ya saya pernah bisa mengerjakan soal-soal matematika, saya juga bisa kalo diajak ngobrol politik. But anyway, coba refleksikan itu ke dalam dirimu, pasti pernah terjadi.

Selain itu dijelaskan juga bahwa passion itu seperti jodoh,


Barry Schwartz, seorang pengajar psikologi di Swarthmore College berpikir bahwa yang mencegah banyak orang muda untuk mengembangkan minat karir yang serius adalah harapan yang tidak realistis. "Ini sebenarnya masalah sama yang dihadapi banyak orang muda saat mencari kekasih. Mereka menginginkan seorag kekasih yang benar-benar menarik, pintar, baik, berempati, bijak, dan lucu. Cobalah mengatakan pada seseorang berusia 21 tahun bahwa ia tidak akan menemukan orang yang benar-benar terbaik dalam segala hal."



"Lalu bagaimana dengan istri Anda?" Tanya Duckworth (penulis buku ini).



"Oh ia menakjubkan. Tapi apakah dia sempurna? Apakah ia satu-satunya orang dengan siapa saya bisa hidup bahagia? Apakah saya satu-satunya pria di dunia dengan siapa ia bisa menjalani pernikahan dengan menabjubkan? Saya rasa tidak." Masalah yang terkait adalah mitos bahwa jatuh cinta pada karir harus mendadak dan cepat. "Ada banyak hal ketika kecerdikan dan kegembiran baru dirasakan saat Anda bertahan lama pada sesuatu, menelaah secara mendalam. Banyak hal terlihat tidak menarik dan dangkal sampai Anda mulai melakukannya, dan setelah beberapa saat, Anda menyadari bawa ada banyak segi yang awalnya tak Anda ketahui, dan Anda tak bisa sepenuhnya memecahkan masalahnya, atau memahaminya sepenuhnya. Yah ini berarti Anda harus bertahan dengannya. Sebenarnya mencari jodoh adalah analogi sempurna. Bertemu dengan calon jodoh-- bukan satu-satunya jodoh yang sempurna-- barulah permulaan."*

Ya Tuhan. Rasanya kayak si Barry ini sedang menyimpulkan apa yang saya rasakan tentang ilmu Psikologi. Awalnya penasaran, mendalami, mendalami, merasa nggak cocok, oh ternyata nggak cocok karena kurang dalam, dalami lagi, dalami terus, dan akhirnya klik!


Kadang emang ada hal-hal yang harus kita lakukan dan dalami meski mungkin awalnya kita nggak suka dengan hal tersebut. Tapi mungkin, nggak suka itu karena kita kurang dalem aja menelaahnya. Tapi di sisi lain, ada juga kok hal yang udah kita dalamiii terus tapi tetep aja nggak bisa kita sukai. Kalo kata seorang sahabat, Sadida, passion itu bisa aja berubah-ubah dan kita terus mencari. Mungkin nanti akan ada masanya lagi di mana aku mulai bertanya-tanya apa bener ini jalanku? Karena menurutku, semua ini proses, perjalanan, pembelajaran, yang jawabannya hanya bisa kita temukan dengan terus melakukannya. Nasihat untuk mengikuti passion bukanlah sesuatu yang buruk. Namun, yang mungkin lebih bermanfaat adalah memahami bagaimana passion dipupuk sejak awal*.


"Hasrat pada pekerjaan Anda adalah sedikit penerimaan, yang diikuti oleh perkembangan, lalu pendalaman sepanjang hidup." Angela Duckworth.

Referensi:
*Duckworth, Angela. 2016. Grit: Kekuatan Passion dan Kegigihan. Terjemahan oleh Fairano Ilyas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



Melepas Impian (1)

"Tuhan mengabulkan doa di saat aku sendiri sudah lupa untuk memanjatkannya." - Status Lineku sekitar empat tahun yang lalu.
Pada suatu pertemuan di kelas Psikologi Positif, dosen saya, Prof Kwartarini menuntun kami untuk melakukan dream building. Singkatnya, dream building itu adalah memvisualisasi dan merasakan mimpi kami dengan detil dalam keadaan relaksasi dalam. Kala itu mimpi yang kami visualkan adalah mimpi untuk wisuda di tanggal yang sudah kami tentukan dan inginkan.

"Buat sedetail mungkin ya. Tanggal kalian ujian, bulan, tahun, waktunya.. tempatnya di mana kalian bakal ujian.. sampai wisudanya juga dibuat seperti itu."

Sebagai salah satu kaum yang meyakini mimpi-itu-gratis-maka-bermimpilah, ya sudah saya tuliskan dengan detail semuanya, saya visualkan dan rasakan dengan detail semuanya bahkan saya membayangkan kelak saat wisuda ada pendampingnya. Oh ya tentu keluarga saya. :)

Beberapa waktu setelahnya, saya bertemu dengan Prof Kwartarini untuk konsultasi karena besoknya saya harus menerapi beberapa orang dream building tersebut.

"Kamu gimana kemarin waktu (saya terapi) dream buildingnya?" Tanyanya.
"Saya bisa kok Bu memvisualkan semuanya, bahkan sampai saat ini saya masih ingat warna kebaya wisuda saya."
"Lho jangan. Jangan kamu kekepi (genggam) terus. Lepaskan. Biar semesta yang bekerja."
"Oh gitu ya Bu? Berarti konsepnya beda dengan law of attraction yang semakin kita memikirkan suatu hal maka sesuatu itu akan datang ke kita?"
"Dikuatkan boleh. Misal ketika mau tidur, kamu memvisualkan kembali, seperti apa.. Tapi ketika sedang beraktivitas seperti ini, dilepaskan."

I got it.

Tepat setelah saya selesai menerapi klien-klien saya, saya bertemu dengan seorang teman di ruang tunggu lantai tiga. Kami berbincang tentang target dan impian.

"Aku ini Lak, selalu punya target-target di hidupku." Katanya. "Abis lulus pengen kerja di sini, lalu pengen nikah di usia segini, lalu pengen punya anak setelahnya. Tapi ada hal yang akhirnya menjadi titik balik, bahwa ternyata ada kekuatan di luar kekuatan kita."
"I see."
"Pas aku narget pengen punya anak, ternyata aku ngga kunjung bisa punya anak. Aku usaha ini itu dan sebagainya.. sampai akhirnya aku menyerahkan dan mengikhlaskan ke Tuhan. Ketika aku sudah mengikhlaskan, alhamdulillah akhirnya aku bisa punya anak."

Dari dua kisah tersebut aku belajar tentang kekuatan melepaskan.
Mungkin ada beberapa keinginan kita yang bener-bener kita genggam, kita kekepi terus sampai membuat kita capek sendiri. Buruknya, ketika kita ngga mendapatkan keinginan itu, kita bisa kecewa, marah, dan uring-uringan. Padahal memilikinya saja belum pernah.

Melepaskan bukan berarti kita pasrah nggak melakukan apa-apa. Ngikut ke mana air mengalir. No.

Melepaskan itu menurutku adalah sesuatu yang berat. Perlu usaha, perlu waktu. Apalagi melepaskan ke yang Maha Pemilik Hidup ini. Melepaskan dengan artian mengikhlaskan bahwa yang menjadi ketentuan-Nya bagi kita adalah yang terbaik.

Mengikhlaskan bahwa kadang ada banyak hal yang ngga bisa kita lakukan karena kita sebatas manusia.

Bianglala dan Memasak (1): Menghemat Ratusan Ribu Berkat (Ala-ala) Meal Preparation. This is Anak Kosan Life Hack!

"Kalo bisa, sebelum nikah tu belajar ini itu dulu Mbak. Jangan kayak Mama, dulu pas awal-awal nikah bingungan. Untung oma deket, bisa tanya-tanya oma."

Aku sering lihat seorang teman, Cei namanya, membawa bekal ke kampus. Jadi setiap makan siang, dia akan makan di sebuah meja di dekat kelas kami bersama temannya. Ketika aku tanya-tanya dia bawa makan apa, dia cerita kalau setiap pagi dia masak sendiri. Aku cukup kaget waktu itu, karena makanan bekalnya nggak cuman goreng-gorengan yang lima belas menit jadi. Pernah dia bawa ikan balado, sayur bayam, dan makanan-makanan sulit lainnya. Lalu aku tanya, gimana cara dia bisa masak di pagi hari mengingat semester satu waktu itu kami sibuk sekali dengan tugas-tugas.

Cei cerita, kebiasaan di keluarganya adalah menyiapkan 'mau masak apa' untuk sepekan ke depan. Setelah itu, barulah menyetok bahan-bahan makannnya. Kemudian di awal pekan tersebut, keluarga Cei ngolah sedikit-sedikit kayak ngupasin bawang (bawang selalu penting untuk hampir semua masakan dan memakan waktu lama di pengupasan) dan lain-lain.

Wah boleh dicoba nih. Cei bisa masak selama paling nggak setengah jam, ya barangkali aku bisa. Selama ini aku lihat ibuku kalau masak lama sekali. Karena beliau cukup perfectionist. Beras aja dicuci sampe lima kali, sayur, ayam, ikan, dicuci berulang kali. Iya, perfectionist kadang beda tipis sama insecure. Hehe.

Anyway, akhirnya beberapa minggu lalu aku coba untuk beli bahan-bahan makanan di awal pekan. Aku bebas aja milih sayur-sayur kesukaan kayak sawi sendok, brokoli, dan bahan-bahan penting kayak bawang bombay, tomat, dan cabe. Sepulangnya dair belanja, aku mengolah 'setengah jalan' bahan-bahan tersebut. Motongin sawi dan brokoli jadi kecil-kecil contohnya. Lalu beberapa hari ke depan aku masak untuk bekal aku dan adikku.

Berjalan dua minggu, aku merasa banyak keuntungannya masak sendiri. Keuntungannya akan aku jelasin di bawah. Aku mau lanjutin cerita dulu.

Lalu karena lagi pengen diet, aku iseng-iseng bukain vlog orang-orang yang ngasih tips-tips diet sehat. Dari vlog seorang vlogger yang aku lupa namanya, aku dapet satu istilah meal preparation. Karena penasaran, aku googling lah apa itu meal-prep. Kemudian aku nyampe ke tulisan di blog ini dan ini

Satu kata setelah baca-baca tentang meal-prepnya dia:
G I L A. GILA BANGET DENG!

Bisa hemat sampe ratusan juta........ Salut banget sih sama mbak Twelvi ini. Dengan penghasilan yang mungkin gede, dia bisa saving karena masak sendiri. Kalo aku mah, karena mepet jadinya milih masak sendiri wkwk. 

Akhirnya, dengan mengkombinasikan dua cara dari Cei dan Mbak Twelvi, aku lanjutin masak sendiri lagi karena kau merasa dapet keuntungan dari situ. Tapi aku ambil langkah baru, aku nentuin setiap harinya makan apa. Karena ngga ada micowave dan kulkas barengan, jadi ngga enak juga kalo mau niru Mbak Twelvi banget. Jadilah aku ngolah-ngolah bahan makanan setengah jalan, jadi tiap pagi tinggal masak-masak aja.

Dari kebiasaan yang lagi aku coba ini, aku dapet banyak keuntungan, seperti:

1. Hemat
Asli lebih hemat. Belanja untuk keperluan seminggu untuk dua orang tu paling banyak sekitar 30-50 ribu (udah sama beras dan telur). Padahal kalau makan di luar, sehari bisa 30.000. Bayangin aja kalo ditotal ya, anggaplah sehari kalo makan di luar aku habisin Rp 30.000,00 (belum sama jajan printilan atau kalo ngopi di kofisyop, mungkin bisa Rp 50.000,00 ewww). Total aja berarti seminggu bisa Rp 210.000,00-Rp 300.000,00. Kalo aku masak sendiri, Rp 30.000,00 (udah sama ayam dan telur) bisa untuk seminggu aku sendiri. Ditambah kalo kadang pengen jajan atau ngopi. Pol polan, Rp 100.000,00 seminggu. WOWWWWWWWWWWWWWWWW. GILAK. Kayaknya minggu depan aku mau mulai kredit rumah.

Ini salah satu contoh belanjaanku. Bisa untuk seminggu lebih untuk dua orang (aku dan adikku, untuk satu kali makan). Habisnya hanya Rp 63.000,00 (sama ayam potong)


2. Bersih
Dengan masak sendiri, aku bisa menjamin makanan yang masuk ke tubuhku ini bersih. Aku dan adikku nyuci dan mempersiapkan semuanya. Termasuk alat-alat masaknya. Padahal ngga jarang aku dan adikku (yang super duper sensitif sama hal-hal kotor dan bau) sering nemu piring yang masih licin atau ekstremnya, adekku pernah pesen minum di rumah makan padang, terus sedotannya ada bekas lipstick-nya. TRUE STORY.

3. Bangun pagi
Salah satu habit yang dari dulu pengeeeeeeeeeeeeeen banget aku bangun adalah habit bangun pagi dan nggak tidur abis subuh. Bisa bangun jam 4 terus aktivitas dimulai itu kenikmatan sendiri meski siangnya ngantuk-ngantuk dikit. Dengan adanya 'keharusan' masak, paling nggak meski abis subuh masih tidur lagi, bangun setengah enam terus mulai masak udah sesuatu yang hebat bagiku (Biasanya baru bangun jam enaman).

4. Kreatif
"Dengan bahan ini, dengan kemampuanku yang masih sederhana, dengan waktu setengah jam, aku bisa masak apa ya?"
Itu bener-bener butuh waktu cepat untuk mikir kreatif dengan cepat. Aku masak sayur pun paling cuman bisa tumis, kukus, rebus. Jadi biar ga bosen, aku harus olah apa dan gimana agar aku nggak bosan?

5. Multitasking
Meski perempuan, aku ini agak susah multitasking (Karena beberapa sumber bilang kalo perempuan jago multitasking). Aku bahkan kadang ngga bisa nge-chat sambil ngobrol sama orang lain wk. Dan masak, 'mengharuskan' kita untuk bisa multitasking. Motong sambil nggoreng. Nunggu tumisan sambil nyicil nyuci piring. Dan lain-lain.

6. Latihan
Ibuku pernah bilang, kalau masakan istri adalah salah satu hal yang membuat suami kangen ke rumah. Ibuku suka masak dan takdir mempertemukan dengan ayahku yang cocok sekali dengan masakan ibuku. Kedua orangtuaku suka makanan jawa, alhasil setiap ibuku masak, ayahku selalu makan. Ditambah dengan pujian, dan kritik kadang-kadang. Aku suka lihat ayahku yang makan masakan ibuku dengan lahap. Begitu juga dengan aku dan adikku, kami suka masakan ibu kami meski sederhana. Karena hal itu, aku ingin bisa masak untuk keluargaku kelak.

Nah, sekian ceritaku tentang habit yang lagi aku bangun ini. Kalo ada yang mau coba, good luck! Jangan lupa share ke aku gimana pengalaman teman-teman membangun habit masak sendiri ini. Nggak usah susah-susah masaknya. Kalo cuman bisa rebus, kukus, tumis, ya udah itu aja. Karena tujuannya kan untuk diri sendiri, untuk kesehatana dan kehematan diri sendiri, bukan untuk di-update ke instastory dengan caption, "Udah siap jadi istri buat kamu."

Good luck!

Tulisan Terakhir di Usia 22 Tahun

Beberapa jam sebelum usiaku berkurang aku memutuskan untuk menulis.

Beberapa hari belakang, aku bertemu dengan klien pendampingan psikologisku, individu maupun kelompok. Jadi bagi yang belum tau, di semester ini aku harus membantu tiga orang secara individu (mari ke depannya kita sebut dengan istilah klien) dan sekitar belasan klien kelompok (tentu aku membantu mereka bersama timku).

Ada mitos yang mengatakan bahwa, klien yang ditemui oleh psikolog biasanya memiliki masalah serupa dengan psikolog tersebut. MAKA, kami sebagai (calon) psikolog harusnya sudah selesai dengan masalah kami masing-masing dulu sebelum kami menangani orang lain.

Dan, iya.

Klien yang kutemui memiliki masalah yang serupa denganku di masa lalu yang beberapa sedang kuperjuangkan untuk kuselesaikan dan sisanya sudah kuselesaikan dengan baik. Aku juga nggak tau kenapa kok bisa ngepas dan mitos itu beberapa kali terbukti, tapi yang aku rasakan ketika menemui klien dengan masalah serupa, aku rasanya pengen bilang, "Aku pernah lho di posisimu, aku tau rasanya, ayo kita selesaikan bareng-bareng!"

Bener kata Bu Sofi, dengan mengalami dan menerima kejadian negatif maupun positif membuat kita semakin kaya. Dengan semakin kaya, kita bisa share ke orang tentang bagaimana kita menghadapinya. Ditambah kata Bu Bo, kalau kita nggak merasakan sakitnya, kita ngga akan bisa cerita ke orang bagaimana enaknya sehat. 

Aku jadi ingat, sekitar setahun yang lalu ketika aku nulis caption untuk foto ulangtahunku di instagram, aku bilang kalo aku hebat karena sudah menghadapi dunia yang cruel ini. Tapi seiring berjalannya waktu dan pengalaman, aku sadar bahwa dunia ini nggak sejahat itu. Dunia yang nampak jahat ini sebenernya adalah medan tantangan buat kita. Bisa nggak kita terus kuat? Bisa nggak kita bangkit setelah jatuh? Bisa nggak kita mengatasi diri kita sendiri? Kadang aku mikir, berbagai hal berat yang kita hadapi mungkin adalah cara Tuhan bilang sama kita, "Hei sini mendekat ke Aku, Aku tau jalan keluar yang terbaik buat kamu."

Selain itu, mungkin kadang dunia nggak sejahat itu, tapi kita yang belum tahu cara menghadapinya aja. Mungkin kita belum paham sama diri kita sendiri yang membuat kita semakin susah menghadapi dunia karena kita nggak tau senjata apa yang kita punya. Gimana dong cara tau senjata apa yang kita punya?

Cara yang selalu berusaha kulakukan agar tau senjata apa yang aku punya adalah dengan menerima apapun yang terjadi di hidup ini. Mau positif mau negatif, semua coba kuterima. Dalam proses menerima, aku akan mikir, "Oke, aku ternyata sedih karena hal ini, aku kenapa ya kok sedih? Apa yang bisa kuperbuat ketika aku menerima ini?" Lagi-lagi balik ke menerima karena menerima dan menyadari adalah langkah awal kita semakin mengenal diri kita. Semakin kita berlatih menerima dan menghadapi dunia yang luar biasa ini, kita akan semakin tau senjata apa yang kita punya untuk menghadapi hal-hal serupa yang bisa jadi terjadi lagi di kemudian hari.

Jadi kadang, dunia ini nggak salah, orang lain yang kita anggap menyakiti kita nggak salah, situasi nggak salah, waktu nggak salah, kita pun nggak salah, nggak ada yang salah. Namun, adanya situasi sulit yang datang itu adalah cara Semesta melatih diri kita untuk mengenali senjata yang sebenernya kita punya agar kita semakin kuat dan siap menghadapi dunia yang baik-baik saja ini.

Sebelum Membenci Orang, Ada Baiknya Baca ini Dulu

Aku bukan tipe orang suci yang jarang memiliki perasaan atau pikiran negatif kepada orang lain. Aku mudah kesal bahkan untuk urusan makanan yang lama sekali sampai di mejaku ketika aku sedang lapar-laparnya. Tapi, kadang kognitifku ini jalannya lebih cepat dibanding perasaan yang kadang mengganggu.

Aku pernah menjauhi seorang teman karena aku sakit hati oleh perilakunya. Entah benci atau takut tersakiti lagi, tapi perasaan yang seperti ini sangat nggak enak. Kemudian aku belajar, mengobservasi, mengalami sendiri, aku menemukan beberapa cara agar aku nggak mudah kesal atau membenci orang lain. Cara-cara berikut kadang manjur bagiku, kadang nggak manjur bagiku, nggak tentu manjur bagimu tapi juga mungkin manjur bagimu.

1. Coba Pahami
Pernah aku membaca salah satu artikel di psychologytoday (yang sayangnya aku lupa menyimpan artikel itu). Artikel itu tentang bagaimana cara memaafkan dan dimensi-dimensi dari memaafkan itu sendiri. Salah satu dimensi yang paling ngena di hatiku adalah 'coba pahami atau coba membayangkan jika berada di posisinya.' Mungkin posisinya berat sehingga dia harus memilih untuk menyakiti kita atau dengan tidak sengaja atau tidak sadar menyakiti kita.

2. Derajat
Mbak Cime, salah seorang temanku yang lapang hatinya pernah bilang, "Kenapa harus menjelek-jelekkan orang, barangkali derajat dia lebih tinggi daripada kita." Ini sederhana tapi mampu membuatku merasa bersalah karena masih sering ngomongin kejelekan orang. Barangkali di Mata Tuhan, dia lebih baik posisinya. Barangkali Tuhan jauh lebih sayang kepadanya karena dari kesalahannya dia belajar dan kembali kepada Tuhan. Ngga ada yang tau, kan?

3. Memaafkan
Mungkin ini yang paling berat. Aku pun masih berat untuk memaafkan orang yang menyakiti hatiku. Tapi suatu ketika, saat sedang iseng scroll timeline twitter, salah satu akun agamis ngetwit yang intinya "Kenapa kita nggak memaafkan orang lain? Padahal Tuhan sudah sering memaafkan kita." Eh iyaya? Aku ini siapa kok sok sekali nggak memaafkan orang padahal dosaku sudah sangat banyak dan Tuhan masih saja memaafkanku? Sama-sama manusia, sama-sama nggak sempurna, sama-sama berbuat salah, kenapa nggak mau memaafkan?

4. Benci perilakunya
Awalnya menurutku ini klise sekali. Tapi aku baru sadar bahwa manusia adalah mahluk yang dinamis. Apa yang dipikirkan sekarang, belum tentu dipikirkan besok. Apa yang dilakukan sekarang, belum tentu dilakukan besok. Barangkali hari ini dia berbuat salah, tapi siapa jamin besok dia masih berbuat salah? Bukankah hidayah Tuhan itu datang dari arah mana saja? Mungkin orang yang kita benci saat ini karena satu perilakunya, besok udah jadi orang yang baik karena disadarkan oleh semesta bahwa perilakunya nggak baik. Ketika perilaku tersebut udah nggak lagi dia lakukan, masa iya kita masih membenci orangnya?

Ya begitulah. Aku pun sedang belajar. Nggak selalu aku bisa dengan mudah memaafkan atau tidak membenci orang tapi yang aku yakini, perasaan benci, sakit hati, tersinggung yang berkepanjangan dan berlebihan itu nggak enak. Maka dari itu, aku mencoba untuk menguatkan pikiran baik agar bisa 'melawan' perasaan negatif yang mengganggu.

Tapi, kalau kita ketemu orang super baik yang mengaplikasikan empat hal tersebut, itu bukan berarti kita bebas melakukan 'kejahatan' ke dia. Kita tetap manusia yang lebih sering 'bisa' memilih, memilih untuk melakukan hal baik meski dalam keadaan sempit sekalipun.

Belajar Menerima Makanan Hotel

Yang kuyakini, mencintai itu berasal dari dua hal, menerima dan memaafkan.
Beberapa hari sebelum akhirnya balik lagi ke Jogja setelah liburan panjaaaang sekali, ayah dan ibuku memutuskan untuk liburan beberapa hari di Jogja sekalian untuk mengantarkan aku dan adikku balik ke perantauan. Kami juga mengajak oma kami (nenek ku), karena oma kami suka sekali jalan-jalan meski hanya duduk di mobil, melihat-lihat jalanan dan mengomentari apa yang ia lihat (Salah satu yang bikin kami ngga ngantuk adalah komentar oma kami yang lucu-lucu).

Kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel yang nggak begitu mahal, tapi juga nggak begitu murah. Ya ngga apa lah, jarang juga nginep di hotel, pikir kami saat itu.

Keesokan paginya, kami sarapan di restoran hotel. Sebagai anak kosan yang biasanya nggak sarapan karena keterbatasan waktu dan uang saku (lebih tepatnya mengalokasikan untuk hal lain :) wkwk), aku excited karena bisa makan banyak hal di sana. Apalagi setelah menjalani diet gagal selama liburan yang membuatku ngga bisa makan bubur ayam Bandung enak di Semarang, tujuan pertamaku tentu bubur ayam.

Suapan pertama, aku mensyukuri bubur ayam hangat yang enak ini. Suapan kedua aku sadar bahwa ada yang salah dengan bubur ayam ini. Bubur ayam ini keasinan banget. Asli. Tapi ya namanya Bianglala, tetep dihabisin aja. Setelah bubur ayam, aku nyobain makanan yang lain yang ternyata juga keasinan (ya kecuali roti tawar, susu, air putih, jus). 

Ternyata nggak cuman aku yang merasa kalo makanan ini keasinan, keluargaku pun demikian, apalagi omaku yang pinter masak, pasti baginya makanan ini banyak salahnya. Akhirnya kami bilang ke staf hotel kalo makanannya keasinan dan mereka berjanji akan make it better untuk makanan besok.

Keesokan harinya, karena udah agak kapok sama bubur ayamnya, aku makan nasi goreng. Selain bubur ayam, nasi goreng juga salah satu makanan yg kusyukuri karena aku suka nasi goreng. Suka sekali. Meski aku pernah makan nasi goreng yang jauh lebih enak daripada nasi goreng hotel ini (nasi goreng babat Pak Karmin di Semarang, kalian harus coba), aku bersyukur karena nasinya itu tipe yang kering dan nggak blenyek, terus kecapnya nggak kebanyakan, dan yang pasti karena aku udah lama sekali nggak sarapan nasi goreng (GARA GARA DIET).

Selagi aku makan, omaku dan ibuku mengomentari makanan yang tetep nggak bener ini. Aku mengakui sih, masih keasinan, masih begini, begitu, dan sebagainya. Berarti memang standar cita rasa makanan mereka segini aja levelnya.

Tapi aku dapat sesuatu dari makanan hotel ini.
Kadang ada hal yang nggak bisa kita ubah di dalam hidup. Apapun itu. Kita nggak punya kontrol yang besar untuk mengubah meski kita udah berusaha. Yang bisa kita lakukan ya hanya menerimanya dan mencari sisi baik dari hal tersebut agar kita bisa lebih bersyukur.
 Dari makanan hotel yang kurang enak ini aku belajar, bahwa dua cara untuk mencintai hidup yang sebenernya penuh keindahan ini adalah menerima dan mencari sisi baiknya.
 

 

Selamat Sudah dengan Hebat Melalui Tahun Ini!

"2017 itu tahun yang tai banget." - seorang teman dekat

Tahun lalu, aku nulis untuk menutup tahun 2016. Tahun ini pun demikian. Aku nggak mampu untuk nge-post foto-foto berbagai macam momen di tahun 2017 di insta story karena selain karena males nyari fotonya, juga karena... ya udah yang lain aja yang ngelakuin hehe.

Dipikir-pikir, banyak banget yang terjadi di tahun 2017 ini.
Kalo biasanya "Wah kayaknya baru kemaren aku ini-itu", sekarang ngga ada pikiran demikian karena terlalu banyak yang terjadi dan semuanya memorable.

Dari skripsian, ulang tahun, sidang, ngejar biar bisa wisuda mei, ngejar biar bisa daftar S2, ke beberapa tempat bagus di Jogja, ikutan tes S2, keterima S2, operasi hidung yang sakit sampe bikin nggak bisa napas, blablablabla-----udah ah. Banyak pokoknya. Diinget-inget, tahun ini menyenangkan sekali. Banyak pengalaman yang udah kudapet dari yang paling bahagia sampai yang paling sedih, paling marah, paling kecewa, paling lucu--Tuhan beri lengkap.

Lagi-lagi, Tuhan beri lengkap momen dengan maknanya.
Di tahun 2017 ini, aku nggak hanya dapat pengalaman-pengalaman menyenangkan, tetapi juga pembelajaran yang luar biasa mendewasakan.

Aku belajar bahwa hal-hal baik dan buruk sama-sama harus diterima. 

Hal-hal baik membuat kita semakin bersyukur dan respect sama Tuhan.
Hal-hal buruk membuat kita semakin kuat dan dekat dengan Tuhan.

Di awal tahun 2017, di masa-masa penerimaan ku terhadap kehilangan, aku pernah punya keinginan untuk bisa berbahagia sendiri. Aku memutuskan untuk nggak mau menggantungkan kebahagiaan di orang atau hal. Aku ingin bahagia karena itu keputusanku. Tapi kemudian, aku malah terlalu sibuk menggantungkan kebahagiaanku di mana-mana. Orang yang kusayang, benda yang kuinginkan, capaian yang ingin kutuju--sampe aku lupa dengan resolusi satu-satunya untuk tahun 2017. Sampai akhirnya, di sebuah siang di perpustakaan pusat beberapa minggu yang lalu, aku kecewa dengan sebuah kabar buruk. Kabar buruk yang kuterima setelah beberapa jam sebelumnya aku berdoa kepada Tuhan: Ya Allah, aku nggak tau apa yang akan terjadi ke depan. Aku mohon atur hidupku sebaik-baiknya. Kecewaku berlipat karena beberapa jam sebelumnya aku berdoa demikian. Tapi, aku mencoba menerima berita buruk tersebut. Aku sedih, kecewa, dan marah. Akhirnya aku menangis di perpustakaan pusat, di antara hasil pemeriksaan psikologis yang belum selesai dan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar untuk UAS. Aku nangis. 

Menangis adalah caraku untuk menerima emosi negatif.

Selama menangis, Zahra menenangkanku. Aku merasa beruntung ada Zahra kala itu.
Selama menangis, aku berpikir, mencari penenang untuk diriku sendiri. Sampai akhirnya Tuhan Yang Maha Baik memberiku makna, bahwa sesedih-sedihnya aku dengan keadaan saat itu, aku harus percaya bahwa rencana Tuhan yang terbaik. Klise memang, tapi menenangkan. Akhirnya aku mendapatkan jawaban dari resolusi ku di awal tahun 2017, bahwa aku nggak bisa bahagia sendirian, aku berbahagia bersama Tuhan.

Di tahun 2017 ini, lagi-lagi Tuhan memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku yang kuajukan kepada-Nya di tahun 2016. Kenapa aku kadang merasa nggak pede sama diriku sendiri? Kenapa aku kerap merasa nggak berharga? Kenapa aku takut berlebihan kalau orang yang kusayang marah ke aku? Kenapa aku sedih berlebihan ketika aku mengalami kehilangan? Tuhan beri jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu di tahun ini, dengan cara-Nya yang mengejutkan. Dengan membuatku jatuh dan berantakan nggak karuan, sampai akhirnya aku mencari cara dan mencari bantuan untuk berdiri dengan lebih tegak.

Aku belajar, bahwa hal buruk yang kuterima bisa membuatku berpikir bagaimana agar masalah ini selesai dan bagaimana agar aku bisa bangkit lagi. Agar nantinya, jika ada masalah serupa, aku sudah lebih kuat.

Dengan menerima-menerima kejadian, emosi, masa lalu, dan pengalaman, aku belajar untuk menerima diriku sendiri. Aku belajar untuk memahami bahwa 'oh gini ya rasanya sedih karena hal ini, lalu aku bisa apa ya?' akan mengantarkanku ke 'oh aku akan melakukan ini untuk menyelesaikan masalah, berarti aku adalah orang yang begini ya.' hingga pelan-pelan aku bisa memahami dan membentuk diriku sendiri. Berat sekali memang, tapi pasti bisa.

Nggak hanya menerima, di tahun 2017 aku juga belajar untuk meyakini bahwa Tuhan sudah sayang sekali sama hamba-Nya dan yang diberikan-Nya adalah kebaikan untuk hamba-Nya. Bagiku, meyakinkan diri dengan keyakinan seperti itu nggak mudah. Karena kadang, setiap habis merasa yakin, Tuhan menggodaku dengan kejadian-kejadian yang mengujiku dengan keyakinan itu. 
"Tuhan itu nggak kayak manusia, mbak. Tuhan lebih dari itu. Nggak pemarah kayak manusia." - seorang teman 
Tuhan sungguh Maha Baik. Di antara dosa-dosaku yang nggak terhitung, Ia masih saja memberiku berkah. Mungkin bagi yang setiap hari bisa bernapas dengan lega, oksigen dan hidung yang sehat adalah sesuatu yang jarang untuk disyukuri. Tapi aku pernah mengalami nggak bisa napas hingga kepala pusing karena suplai oksigen ke otak kurang. Karena hal tersebut, aku sungguh-sungguh mensyukuri mudahnya bernapas dan oksigen yang Tuhan berikan.

Tuhan sungguh Maha Baik, Di antara dosa-dosaku yang nggak terhitung, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihat merapi dengan jelas, untuk melihat langit yang indah, untuk mendapat teman-teman yang baik, untuk mendapat makan gratis tiba-tiba, untuk bisa membuat orang lain senang, untuk bisa dirindukan orang lain, untuk bisa punya keluarga lengkap, untuk bisa berjalan dengan kedua kakiku, untuk bisa menyelesaikan tugas-tugasku, untuk diberi kesehatan, untuk bisa menikmati nasi padang, untuk bisa seneng banget karena liat video Tatan, untuk bisa berusaha mencari makna, untuk bisa menerima makna, untuk bisa berterima kasih, untuk bisa bersyukur. Tuhan Maha Baik.

Jadi, di tahun 2017 ini, jangan hanya berterima kasih pada tahun 2017 yang sudah memberikan banyak makna, berterima kasihlah kepada Tuhan yang sudah menunjukkan makna, dan yang paling penting kepada diri sendiri yang sudah berhasil melalui tahun ini dan menemukan makna. 

Karena kadang kita lupa menghargai seseorang yang paling berjasa di hidup kita--diri kita sendiri.

Menikah: Happily Ever After?

"Beberapa waktu yang lalu aku sempet takut nikah.."

Kataku siang itu, di depan seorang sahabat yang sebentar lagi akan jadi istri orang. Sebelum ia menjawab, aku jadi ingat, bahwa sekitar dua hingga tiga tahun yang lalu, aku, adalah perempuan yang sangat menginginkan pernikahan karena aku capek dengan banyaknya tugas perkuliahan.

Dan detik ini, aku, perempuan yang pernah sangat ingin menikah dan pernah takut untuk menikah, kembali ingin menikah. Tapi dengan pikiran yang lebih rasional.

Di awal perkuliahan S1, aku sangat ingin menikah.
Membayangkan seorang laki-laki yang dengan sangat gentle menembung ke orangtuaku bahwa ia mencintaiku, kemudian kami menikah, dan hidup bahagia selamanya tanpa tugas-tugas kuliah apalagi tugas-tugas organisasi dan event. dah pokoknya yang enak dan membahagiakan akan terjadi setelah aku menikah. Begitu pikirku kala itu.

Hingga akhirnya, hidup memberi banyak pelajaran.
Begitu juga dengan buku-buku dan jurnal-jurnal penelitian. 
Tapi baiklah, sebelum kita berkutat dengan teori-teori dan hasil-hasil penelitian, mari aku ajak kalian mundur ke saat aku menjadi asisten kelas Gangguan Mental.

Kala itu, setelah selesai mempresentasikan berbagai macam jenis gangguan mental. Bu Bo, menanyakan satu hal kepada kami, yang kurang lebih seperti ini:
"Kalau dilihat dari gangguan-gangguan tersebut, biasanya orang mulai mengalami gangguan karena adanya permasalahan sejak kapan?"

Nyaris serempak, seisi kelas menjawab "sejak anak-anak

Iya, sejak anak-anak. 
Padahal lingkungan anak-anak itu cenderung berkutat pada keluarga.
Jadi, memang iya. Orang-orang dengan gangguan mental kebanyakan penyebabnya ada di dalam keluarga.

Mudahnya begini saja,
Sebuah contoh; Ada orang yang nggak mudah mengutarakan perasaannya, akhirnya dia banyak menekan perasaannya atau mengabaikan. Ia bersikap demikian karena kultur di keluarganya yang kurang terbuka dengan mengutarakan dan menerima perasaan, apalagi yang negatif. (Apalagi) mereka yang laki-laki cenderung mengabaikan dan menekan perasaan negatif seperti sedih karena kultur melahirkan 'laki-laki nggak boleh nangis atau sedih'. Padahal laki-laki juga manusia, yang juga dikaruniai Tuhan perasaan sedih. Nah perasaan-perasaan yang banyak diabaikan ini bisa jadi bom waktu di kemudian hari jika nggak segera diselesaikan.

Kembali lagi ke bahasan kita di awal tentang pernikahan--
Akhirnya beberapa waktu kemudian setelah menjadi asisten, aku berkutat dengan buku-buku tentang keluarga dan pernikahan, juga jurnal-jurnal penelitian karena skripsiku bertema tentang pernikahan dan keluarga. Penelitian menyebutkan, perceraian sudah menjadi sesuatu yang 'biasa'. Oke, anggaplah aku mengambil literasi dari barat, tapi nggak menutup kemungkinan di Indonesia juga demikian. Meski aku yakin, pasangan-pasangan di Indonesia cenderung mampu mempertahankan komitmen, apapun motivasinya.

Ditambah ketika saat itu aku sedang patah hati, jadilah aku cukup takut untuk menikah. Apakah ada orang yang akan saling mencintai--tanpa bosan--tanpa saling menyakiti--untuk waktu selamanya?

"Memang kenapa kamu takut nikah?" 
"Banyak masalah kayaknya. Aku ngerjain skripsi tu, takut-takut gitu, karena tau masalah pernikahan dan keluarga macem-macem." 
"La, orang yang nggak nikah aja punya masalah."

Sederhana dan klise.
Orang yang nggak menikah pun juga punya masalah.

Kemudian aku melanjutkan kuliah dan menemukan kasus-kasus lainnya (khususnya tentang pernikahan dan keluarga). Beberapa orang yang kutemui, masalahnya berasal dari keluarga, dari orangtua. Orangtua yang bertengkar, orangtua yang bercerai, orangtua yang begini dan begitu. Seorang yang kutemui shock dan trauma karena melihat orangtuanya bertengkar, seorang yang lain juga demikian karena orangtuanya bercerai. Dan yang lain sebagainya--bermasalah karena melihat apa yang terjadi dengan orangtua dan keluarga.

Iya, aku takut.
Aku takut kalau tidak bisa membina keluarga dengan baik dan berdampak kepada anak-anakku.
Kemudian aku mikir, bukannya pertengkaran itu seharusnya biasa? Memperdebatkan hal kecil bukannya biasa? Namanya juga ada dua kepala dengan dua pengalaman yang berbeda, pastilah beda cara pikirnya, tapi kenapa ya kalo lihat orangtua berdebat atau bertengkar meski karena hal kecil kita jadi shock?

Iya, ada yang pernah mikir demikian?

Menurutku, pernikahan itu menyatukan dua kepala, dua hati, dua kebiasaan dalam satu rumah, dalam satu kesatuan. Susah? Pasti. Maka perdebatan dan pertengkaran seharusnya bukan menjadi sesuatu yang mengejutkan, meski seharusnya kita menghindari. Toh di teori psikologi sosial juga ada, namanya storming, sebagai salah satu fase pembentukkan kelompok. Tapi kenapa kita terkejut dan bisa shock jika melihat orangtua kita bertengkar?

Mungkin itu karena kisah-kisah membahagiakan tentang pernikahan yang sejak dulu kita nikmati. Dari Cinderella hingga Ande-Ande Lumut. Yang kebanyakan tentang perjuangan seorang perempuan melawan hidupnya yang sungguh menyusahkan kemudian menikah dengan laki-laki atau pangeran dari keluarga kaya, kemudian cerita berhenti di hari resepsi pernikahan. Membahagiakan? Pasti. Tapi kalau cerita dilanjutkan sampai mereka kakek-nenek? Pasti nggak mudah.

Mungkin itu.
Mungkin karena sejak kecil yang kita tahu bahwa menikah adalah gerbang menuju kebahagiaan yang abadi. Kalau sudah menikah semuanya jadi membahagiakan karena ada pasangan yang mencintaiku, akan melakukan apapun untukku, membantuku, mengertiku, dan lain sebagainya.
Padahal menikah itu adalah fase kehidupan.
Sama seperti anak SMA yang pengen banget kuliah di UGM contohnya, dia mikir 'wah kalo udah kuliah di UGM aku pasti seneng banget, semangat, bahagia.' Tapi ternyata sesampainya di ruang kelas, dia harus menghadapi fase hidup yang baru dan lebih menantang.

Sama seperti menikah,
Kita terlalu berekspektasi bahwa menikah adalah kebahagiaan yang di mana nggak ada kesedihan dan kesusahan di sana. Padahal untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya ya kita harus berjuang. Apalagi kita menikah.
Menikah yang adalah sunah Rasul.
Menikah yang merupakan separuh agama.
Menikah itu ibadah.
Ya pantes kalau cobaannya berat, orang pahalanya surga. 

Makanya dengan segala keberatan itu, kita harus bersiap-siap sebaik-baiknya.
Menyiapkan diri, memperbaiki diri, menguatkan diri.
Sama seperti anak SMA yang bisa kuliah di UGM tadi, dia menempa dirinya dengan belajar untuk SBMPTN, belajar dengan rutin, agar nanti waktu kuliah, dia nggak kaget dengan dunia perkuliahan yang banyak  tugas.

Ya, mending kita memperbaiki diri dulu.
Belajar bangun pagi dan nggak tidur setelah subuh, belajar on time, belajar komunikasi agar lebih asertif, belajar manajemen konflik, belajar dengan maksimal, belajar agama, meningkatkan ibadah, melawan nafsu, belajar mengasuh anak, dan lain-lain sebagainya.

Nanti, kalau Allah sudah yakin bahwa kita siap, kita akan menikah di waktu yang tepat. Karena Allah yang paling tahu, kapan waktu yang tepat saat kita sudah siap.

"Menikah itu ibadah yang juga ada waktunya. Sama seperti puasa Ramadhan. Waktunya ya di bulan Ramadhan. Kenapa harus buru-buru puasa kalau belum bulan Ramadhan?" - Sebuah artikel yang saya lupa banget baca di mana hhhh :(

Instead of, kita bergalau-galau karena belum juga menikah. Belum ada pasangan.
Ayolah, kita ini kuat. Nggak punya pasangan bukan berarti kita sendirian.
Ada Allah yang 24 jam menjaga dan menemani kita.
Yang membantu kita.
Yang mencintai kita.

Jadi, menikah itu memang bukan gerbang menuju kebahagiaan yang berarti nggak ada masalah sama sekali. Ekspektasi kita harus diubah, agar kita nggak kecewa kalau ada konflik. Menikah itu lorong yang panjaaaang sekali, untuk menuju kebahagiaan yang sebenar-benarnya--surga.

Menikah itu memang pasti membahagiakan, literatur pun sudah mengakui bahwa menikah akan memberi banyak dampak yang positif daripada mereka yang tidak menikah, tapi pasti ada cobaan. Yang bisa kita lakukan adalah bersama-sama dengan pasangan kita, membentuk tim yang kuat dan kompak, agar seperti apapun badai menerjang, kita tetap berdiri dan berjalan menuju level selanjutnya.

Perspektif strength family tidak mengabaikan permasalahan pada keluarga namun lebih berfokus pada masalah merupakan media untuk menguji ketahanan pada keluarga dan lebih fokus pada bagaimana keluarga menghadapi kesulitan yang terjadi pada keluarga mereka (DeFrain & Asay, 2008) yang nantinya akan membuat pernikahan menjadi lebih baik (Olson, dkk., 2011). Pernikahan dan keluarga yang kuat akan lebih mampu untuk menghadapi masa-masa sulit dibanding mereka yang tidak kuat (Olson, dkk., 2011). -- diambil dari skripsi saya sendiri.

Bersyukur dengan Kesalahan

Di salah satu tulisanku sebelumnya, aku pernah nulis bahwa saat ini aku sedang melanjutkan kuliahku. Dan teman-teman sekelasku adalah orang-orang yang berprestasi serta berpengalaman di berbagai bidang. Hal ini membuatku kadang takut dan nggak pede sama diriku sendiri. Takut salah, takut kurang, takut dikritik, dan berbagai macam ketakutan mahasiswa tanpa pengalaman yang nekat melanjutkan S2 setelah lulus S1.

And once, my best friend said to me:
"Jangan takut salah, apalagi kalau lagi proses belajar atau kuliah gini. Di sinilah tempatmu salah, dari salah kamu bisa belajar yang benar yang mana agar nanti ketika udah di dunia kerja, kamu udah tau yang benar dan bisa melakukan yang benar."

Wah bener juga.
Sekolah dan kuliah itu kan proses agar kita jadi orang pandai. Nggak usah selalu pandai dan benar selama kuliah, salah nggak papa. Karena dari salah kita bakal tau mana yang benar. Mau salah terus asal merefleksikan kesalahan selama proses itu menurutku pribadi nggak masalah. Karena koreksi dan refleksi dari kesalahan-kesalahan tersebut merupakan bekal kita di dunia nyata kelak.

Akhirnya aku cenderung terbuka pada kritik di proses perkuliahan ini (memang meski terkadang masih ada perasaan takut dan merasa bersalah saat dikritik). Aku maju untuk role play jadi konselor, menjawab pertanyaan, dan menyatakan pendapat lebih sering karena dari proses mencoba itu lah aku bakal tau di mana salah dan ketidaktahuanku. Karena bayar UKT mahal itu bukan untuk selalu menjadi sempurna dan memilih untuk nggak coba karena takut dilihatin orang-orang dan dikritik dosen, tapi untuk tau di mana kesalahan agar kelak nggak melakukan hal yang sama.

Bersyukurnya, teman-teman kelasku memberikan kritik tapi juga disertai dengan apresiasi. Dosen yang terkenal galak sekalipun saat memberikan kritik "Nggak papa, orang kita masih sama-sama belajar". Tepuk tangan dan acungan jempol bukan barang langka di kelas kami. Karena kami menghargai proses, menghargai keberanian untuk mencoba, dan tidak malu untuk memberikan pujian. 

Belajar Mencintai

Hari ini diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk menemukan makna di mata kuliah Psikologi Transpersonal. Seperti biasa, hal-hal yang menguatkan diri diberi dan dibagi di mata kuliah ini. Bu Bo bilang kalau di Psikologi Transpersonal itu nggak dikenal dengan istilah psikopatologis. Orang yang 'terganggu' itu semata-mata karena lack of love atau kekurangan cinta.

Bu Bo juga bilang kalau sebenernya selama kita hidup, kita nggak akan mendapat cinta yang utuh. Pasti ada aja hal yang membuat cinta kita nggak utuh karena kekurangan cinta (lack of love) itu sebenernya merupakan hasil dari hubungan sosial kita dengan orang lain. Misalnya ada orang yang nggak diharapkan sama orangtuanya, orang yang ditolak sama kelompok, orang yang dikhianati, orang yang ditinggalkan, dan lain-lain. 

Bu Bo juga bilang cinta yang nggak sempurna ini lah yang membuat kita belajar. Gangguan-gangguan karena kekurangan cinta ini yang membuat kita belajar. Menurutku pribadi, kekurangan cinta membuat kita belajar untuk berjuang menemukan lagi dan menemukan lagi hingga akhirnya kita merasa cukup dengan cinta yang kita miliki. Karena kata Bu Bo, orang yang nggak pernah merasa 'sakit', maka nggak akan mensyukuri saat sehat, dan dengan demikian dia nggak akan bisa cerita ke orang lain bagaimana enaknya jadi orang sehat.

Bu Bo bilang kalau orang yang nggak belajar dicintai maka akan sulit untuk mencintai diri sendiri. Tapi menurutku, apa bisa kita selalu menuntut orang lain untuk cinta sama kita agar kita bisa mencintai diri sendiri? Maka dari itu, pertanyaan tersebut dikirimkan Tuhan sepaket dengan jawabannya.

Setelah perkuliahan selesai, aku melakukan intake interview (bahasa awamnya: curhat) dengan seorang teman. Di akhir curhat, dia tanya kepada saya: "Menurut Lala sendiri, Lala tu orangnya seperti apa?" Lalu aku jawab beberapa kelemahanku yang mungkin belum pernah kuungkapkan ke orang lain. Lalu temanku itu bertanya lagi: "Oke, itu kelemahannya ya. Kalo kelebihannya?"

Dari pertanyaannya, kemudian aku menjawab bahwa aku cukup mampu menemukan makna dari masalah-masalah di hidupku. Dan ternyata dia menyetujui hal tersebut. 

Apa aku sombong? Menurutku enggak.

Menurutku, aku sedang meng-apresiasi diriku sendiri. Aku sedang belajar mencintai diriku yang serba kekurangan ini tapi juga pasti serba memiliki kelebihan karena aku meyakini bahwa Tuhan menganugerahi diri kita dalam satu paket lengkap. 

Maka, nggak ada salahnya kok untuk diam sejenak dan berpikir apa kelebihanmu, apa yang sudah kamu lakukan untuk menghadapi dunia yang jahat ini, untuk berterima kasih kepada dirimu sendiri, untuk memberi reward kepada dirimu sendiri, untuk melakukan hobimu setelah penatnya pekerjaan harian, untuk mengagumi dirimu sendiri, untuk meminta maaf kepada dirimu karena kamu terlalu sering mem-forsir dan menyalahkan dirimu, untuk berterima kasih kepada Tuhan atas dirimu yang begitu lengkap dan sempurna ini. 

Jadi, siapa yang harus mencintai diri kita saat orang lain nggak mencintai kita?
Jawabannya ada di diri kita masing-masing ;)

"Orang yang mampu mencintai diri sendiri dengan kesadaran, tidak akan menyakiti dirinya sendiri" - Bu Bo

Kisah Pertama dari Ruang Kelas Magister Psikologi Profesi Klinis

14 Agustus 2017 silam Tuhan mengizinkan saya untuk belajar lagi tentang psikologi di magister profesi bidang klinis Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Memang untuk menjadi psikolog, kami harus melanjutkan kuliah selama kurang lebih (semoga kurang dan tidak lebih) 2,5 tahun.

Dari sekitar 180 orang yang melalui seleksi magister profesi bidang klinis, terpilih 34 orang penghuni ruangan D-304. Selain bersyukur luar biasa, saya merasa cukup heran mengapa saya bisa menjadi satu dari 34 orang-orang hebat ini. Nggak cuman heran sih, saya (kadang) merasa menjadi yang terbodoh dan ter-tidak berpengalaman di kelas.

Teman saya ada yang pernah kuliah di Eropa, banyak yang pernah bekerja, banyak yang pernah menjadi asisten psikolog, banyak yang pernah menjadi trainer, banyak yang skripsinya sangar, banyak yang hobi penelitian, ada yang pinter SPSS sampai buka jasa, ada yang dapet beasiswa, ada yang udah nikah dan punya anak, banyak yang tahun depan udah mau nikah, ada yang follower Instagramnya ribuan, dan lain sebagainya.

Dan saya di sini cuman anak kemarin sore abis wisuda lalu buru-buru kuliah S2 tanpa pengalaman di bidang Psikologi yang bisa diandalkan.

---

Kuliah di bidang Klinis ini sungguh menyenangkan bagi saya. Kami belajar berbagai macam pendekatan untuk melakukan asesmen dan intervensi. Yang lebih menyenangkan adalah kami berperan menjadi psikolog dan klien di berbagai pendekatan itu. Yang lebih lebih menyenangkan dan sekaligus menantang, dari awal kami berkomitmen untuk saling membuka diri, membuka masalah kami, membuka keresahan kami untuk bisa dijadikan bahan pembelajaran. Kami juga berkomitmen untuk sama-sama melupakan permasalahan itu saat kami sudah keluar dari kelas.

Katanya sih, membuka diri itu rasanya enak sekali.
Tapi ternyata berat luar biasa.

Saat itu kami belajar tentang teknik observasi dan wawancara dengan pendekatan Humanistik. Setelah belajar teori-teori yang-rasanya-udah-nggak-sabar-dipraktikin, kami dikelompokan menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan tiga orang. Satu menjadi 'psikolog', satu menjadi 'klien', dan satunya lagi menjadi observer. Posisi itu akan berputar setelah satu kasus selesai di-observasi dan wawancara. Jadi, yang tadinya menjadi psikolog kemudian menjadi klien, yang tadinya menjadi klien lalu menjadi observer, yang tadinya menjadi observer kemudian menjadi psikolog, begitu seterusnya hingga masing-masing kami merasakan tiga peran.

Selama kurang lebih setengah jam, kelas kami penuh air mata.

Termasuk klien saya saat saya menjadi psikolog.

Termasuk saya (pada akhirnya) ketika Bu Sofi (dosen saya) memegang punggung saya dengan lembut.

Kelas siang itu menjadi kelas pertama di mana kami berani membuka diri pelan-pelan kepada orang-orang yang baru kami kenal dan sungguh membuka diri itu tidak mudah. Beberapa teman mengaku mengalami sakit fisik pada malamnya. Bu Sofi pun berkata demikian 'jangan heran kalau nanti malam rasanya capek atau malah sakit, karena membuka diri itu memang berat. tetapi kalau sudah membuka itu rasanya enak sekali.'

---

Apa hubungan dua kisah yang saya ceritakan?

---

Setelah saling membuka diri, kecemasan, dan permasalahan, saya menjadi sadar bahwa semua orang sejatinya punya masalah dan kecemasan.

Yang pernah kuliah di Eropa punya masalah, yang pernah bekerja punya masalah,  yang pernah menjadi asisten psikolog punya masalah, yang pernah menjadi trainer punya masalah, yang skripsinya sangar punya masalah, yang hobi penelitian punya masalah, yang pinter SPSS sampai buka jasa punya masalah, yang dapet beasiswa punya masalah, yang udah berkeluarga punya masalah, yang tahun depan udah mau nikah punya masalah, yang follower Instagramnya ribuan punya masalah, dan seterusnya dan seterusnya.

Bahkan saya kagum sama mereka yang luar biasa kuat dalam menanggung masalah dan keresehan tersebut. Sampai saya berpikir mungkin saya nggak akan kuat kalau saya lah yang diamanahi masalah dan keresehana tersebut.

Akhirnya saya meyakini bahwa kami ini sama saja. Sama-sama orang yang sedang sama-sama berjuang melawan masalah dan keresahan kami masing-masing. Sama-sama diamanahi Tuhan masalah yang sudah 'dihitung' kadarnya hingga sesuai untuk kami dan bisa kami maknai sebagai satu fase dalam hidup kami.

Saya mungkin memang belum berpengalaman banyak dalam bidang psikologi, belum berkeluarga, nggak suka penelitian, belum pernah kuliah di luar negeri, tapi saya berhasil melalui hidup saya, memaknainya, dan belajar dari masalah-masalah yang Tuhan amanahi kepada saya.

Jadi, saya nggak boleh merasa terbego di kelas lagi.
Karena Tuhan dan Semesta sudah adil dalam membagi jalan hidup bagi masing-masing kita.

---

"Kamu yakin kamu sehat?"
"Selama saya bisa bangkit dari keterpurukan, memaknai masalah saya, dan belajar darinya, saya merasa diri saya sehat, Pak."

- dalam wawancara seleksi magister profesi bidang Klinis beberapa waktu silam.

Barang Pemberian

"Aku muter-muter mall sendirian nyari sesuatu buat kamu, tapi nggak nemu yang pas." 

Suatu sore mendekati waktu maghrib, saya berkendara seorang diri di antara riuhnya jalanan Godean. Bagi yang kerap melewati jalan Godean di waktu sore, pasti tahu ramainya seperti apa. Ramai sekali. Sore itu saya dalam perjalanan menuju kosan dari rumah seorang kerabat. 

Di tengah jalan, saya ingat bahwa besok ada seorang sahabat yang akan sidang skripsi. Sebagaimana sidang-sidang skripsi lainnya di kampus saya, memberi hadiah seperti bunga atau apapun (semakin ke sini, hadiah untuk sidang skripsi semakin kreatif) kepada teman atau kenalan yang berhasil melalui sidang skripsi biasa dilakukan. Apapun motivasi memberi hadiah untuk teman yang sudah melalui sidang skripsi, bagi saya memberi sesuatu tersebut merupakan bentuk simpati dan apresiasi. 

Kala itu akhir bulan dan besoknya saya memang sudah waktunya pulang ke Semarang. Yang berarti bahwa duit saya mepet. Kemudian saya muter otak, enaknya memberi apa yang unik, bermanfaat, tapi tetep ramah di kantong. Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke Mirota Godean untuk beli beberapa snack yang akhirnya saya rangkai sendiri. Boleh lah ya. 

Dalam proses muter otak, saya menyadari suatu hal.
Memberi sesuatu untuk seseorang itu nggak melulu tentang apa barangnya atau berapa harganya
Bagi saya, proses mengingat orang tersebut, rasa ingin memberi sesuatu, mencari jawaban dari pertanyaan "barang apa ya yang cocok untuk dia? apa ya yang dia suka? dia suka warna apa sih? dia butuhnya apa?", menganggarkan uang saku kita untuk membeli barang tersebut, berusaha mencari barang yang cocok, usaha membungkusnya, mikir kata-kata yang sesuai untuk ucapannya, menyisihkan waktu untuk menemui orang tersebut dan memberikan hadiah tersebut, hingga yang diberi merasa senang dengan pemberian kita adalah lebih dari itu. 

Bagi saya, usaha panjang pemberi hingga dapat membuat saya senang dengan barang pemberiannya lebih dari barang itu sendiri.

ps. terima kasih barang pemberiannya yang membuat saya mikir dan terima kasih sudah menjadi trigger untuk menulis (lagi).

Bianglala dan Skripsi (2): Perpanjangan Tangan Tuhan bagian Dua

Ternyata pertolongan Tuhan nggak berhenti di hari saya selesai daftar sidang.

Besoknya, sekitar pukul sembilan, saya terbangun dari tidur paska subuh karena dering telepon dari ibu saya. Ibu saya menanyakan apakah saya benar-benar yakin akan sidang tanggal 26 di mana hari itu adalah hari terakhir pendaftaran wisuda untuk periode Mei. Karena satu dan lain hal, akhirnya ibu saya cukup memaksa saya untuk mengusahakan agar bisa wisuda di Bulan Mei. Ini adalah kali pertama ibu saya memaksa di sepanjang proses pengerjaan skripsi (dan wisuda).


"Mbak, coba bilang Bu Ani biar sidangnya bisa sebelum tanggal 26."

"Pekewuh Ma. Bu Ani nggak pernah susah ke Mbak Lala, masa sekalinya beliau minta tanggal sidang, mbak Lala masih protes? Lagian kemarin Bu Ani abis ngeluh karena sibuk banget pekan ini."
"Dicoba dulu. Mama udah berdoa. Mbak Lala kan belum coba, bilang alasannya kenapa Mbak Lala mau wisuda Mei. Mungkin Bu Ani mau ngerti."
"Maaf Ma. Mbak Lala nggak mau."
"Mbak, dicoba dulu. Yang penting kan berusaha, kalau misal nggak bisa ya sudah, diserahkan ke Allah."

Kemudian saya pekewuh juga sama ibu saya. Ibu saya tau betul kapan harus mengerti keadaan anaknya, tau kapan harus memaksa anaknya. Akhirnya dengan perasaan yang cukup ogah-ogahan, saya mengirim pesan ke Bu Ani, meminta agar Bu Ani berbaik hati meluangkan waktu agar saya bisa sidang sebelum tanggal 26. Saya pun nggak banyak berharap saat itu, karena saya tau betul jadwal Bu Ani udah padat sekali. Saya mengirim WA ke Bu Ani hanya untuk menyenangkan hati ibu saya.

"besok Jumat jam 11-13. Monggo. Silakan ke Pak Wagiman."

Cukup satu pesan dengan penjelasan mengapa saya mengejar wisuda di Bulan Mei dan Bu Ani dengan cepat membalas demikian. Sudah nggak ada alasan lagi untuk nggak bersyukur karena apa yang saya pikir bakal sulit, ternyata mudah sekali. Tuhan untuk kesekian kalinya mengabulkan doa Ibu saya.

Kemudian permasalahan berikutnya: Me-lobby Pak Wagiman.
Pak Wagiman adalah staf bagian akademik yang ngurus skripsi. Karena ngurus dari hal workshop skripsi sampe menentukan waktu sidang dan me-lobby dosen-dosen penguji untuk ratusan mahasiswa di fakultas saya, tentu kadang Pak Wagiman ini gampang-gampang syuse.

Sepanjang jalan dari kosan ke kantor akademik, saya muter otak agar Pak Wagiman berkenan mengabulkan permintaan ibu saya agar saya bisa sidang di hari Jumat yang notabene tiga hari lagi. Karena jika menurut sistem, minimal harus nunggu seminggu dari pendaftaran sidang sampai sidangnya.

Sampai membuka pintu ruang akademik, saya belum mendapatkan kata-kata pembujuk untuk Pak Wagiman. Namun ternyata saya nggak perlu kata-kata itu. Karena di meja Pak Wagiman, Bu Ani sedang me-lobby beliau.

Tuhan memang nggak memberikan saya ide untuk ngomong ke Pak Wagiman, karena Dia memberi lebih. Dia memberi jalan yang lebih baik. Mengejutkannya lagi, ternyata Pak Wagiman sedang menuliskan nama dan jadwal sidang saya di kertas pendaftaran sidang. Yang tadinya Rabu, 26 April 2017 menjadi Jumat, 21 April 2017.

Saya meluk Bu Ani.
Saya nggak meluk Pak Wagiman.

Secara resmi, saya sidang tanggal 21 April 2017.


Bianglala dan Skripsi (1): Perpanjangan Tangan Tuhan bagian Satu

Sudah lama sekali ingin menulis tentang perjalanan saya menulis skripsi, akhirnya tergugah juga untuk ngetik ketika salah satu teman mengirim pesan pagi ini, "La, kapan nulis lagi?".

Tujuh bulan mengerjakan skripsi, Tuhan tidak hanya memberi saya pelajaran di dua halaman kesimpulan skripsi saya. Tuhan memberikan banyak sekali pelajaran yang luar biasa. Beberapanya akan saya tulis di blog saya.

Total halaman skripsi saya adalah sekitar 660 halaman (itu yang sudah direvisi agar tulisannya mengecil, aslinya mencapai nyaris 700 halaman). Karena memang dasarnya lemah, bolak balik dari kosan hingga tiga penjuru Yogya untuk mendatangi responden, mendengarkan mereka bercerita hingga total 17 jam, mengetik sebanyak 700 halaman, mencari diksi, merangkai kata agar membuahkan ratusan kalimat, mendengarkan 17 jam rekaman dan menyalinnya menjadi tulisan membuat saya kerap mengeluh bahkan menangis, Pernah suatu ketika, sepulangnya saya dari wawancara dengan responden (kala itu wawancara berlangsung selama 3,5 jam) perasaan saya jelek sekali. Bahkan kalo nggak salah saya sampe nangis. Padahal saya sedang nggak ada masalah apa-apa. Mungkin saya terlampau lelah dan mungkin juga emosi negatif responden ketransfer ke saya (Jadi bagi temen-temen yang mengeluhkan kenapa ke psikolog mahal padahal kerjaan psikolog cuman dengerin orang ngomong doang, saya yang cuman dengerin aja (nggak ngasih saran apa apa) capeknya bukan main, apalagi psikolog. Mendengarkan bukan hal mudah guys.)

Pengambilan data dengan metode wawancara berat bagi saya. Men-transkrip dan mengkoding data membutuhkan waktu sebulan bagi saya, Mengolah data dan melakukan pembahasan juga berat bagi saya. Karena bagi saya, setiap skripsi memiliki kesulitan dan keberatannya masing-masing. 

Bagi saya, pengambilan data hingga bab empat adalah yang terberat. Tapi bagi teman yang lain, bab dua itu berat. Ada yang bab satunya nggak kunjung disetujui sama dosen pembimbing, ada yang pengolahan data nya harus ngulang, ada yang begini dan begitu. Bagi saya pula, sangat nggak etis untuk bilang "Bab 2 lama amat sih?" "Ambil data aja kok ngulang?" "Dari dulu masih bab 4?" Karena menurut saya, kesulitan itu berbeda-beda tiap orang dan tiap prosesnya.

Tapi saya percaya, setiap kesulitan itu sepaket dengan kemudahan.

Dan Tuhan 'memanjangkan' Tangan-Nya untuk membantu perjalanan skripsi saya.

Kedua orangtua saya nggak pernah menekan saya untuk urusan skripsi. Nggak pernah memberi saya target tertentu, nggak pernah dengan rese nanyain kapan skripsi saya selesai. Karena hal-hal itu, saya malah jadi yang nggak enak, Rasanya pengen segera nyelesaiin agar orang tua saya tenang. Kala itu saya punya target sendiri untuk menyelesaikan skripsi bulan Maret, saya cerita sama ibu saya bahwa saya punya target demikian. Tapi ternyata rencana Tuhan lebih baik,

Sore itu ibu saya menelepon untuk sekedar nanya saya sedang apa. Kemudian dengan lugunya beliau tanya "Mbak, jadi sidang Maret?". Ibu saya bertanya demikian karena saya pernah menjajikan, jadi saya sama sekali nggak sebel ditanya seperti itu di kala saya sedang burned out sekali dengan rekaman-rekaman wawancara yang membuat kuping saya panas. Saya hanya bilang maaf karena nggak bisa menyelesaikan di bulan Maret. Ibu saya mengerti dan hampir tidak pernah menanyakan hal itu lagi.

Saya jadi merasa terbebani ketika orangtua saya mengerti keadaan saya. Saya merasa nggak enak dan ingin sekali memenuhi keinginan tak terucap mereka. Dari situ, saya ingin sekali wisuda bulan Mei. Secara logika, saya nggak mungkin bisa wisuda di bulan Mei. Awal April saya masih menulis bab empat padahal paling lambat pendaftaran wisuda untuk periode Mei adalah 26 April. Untuk nunggu waktu sidang perlu seminggu. Intinya nggak mungkin lah.

Suatu malam ketika saya masih stres banget nulis bab empat, Ibu saya telepon dan (akhirnya) tanya-tanya tentang skripsi saya. Akhirnya, saya berkeluh kesah bahwa saya ingin sekali wisuda bulan Mei tapi skripsi saya nggak kunjung selesai. Ibu saya menasihati di antara derai air mata saya, "Dikerjain aja pelan-pelan Mbak. Mama nggak mau kamu cepet selesai tapi stres kayak gitu. Sambil ngerjain sambil berdoa. Semuanya diserahin sama Allah." 

Nasihan yang sederhana. Tetapi membuat saya terpacu lagi.

Akhirnya saya berusaha secepat mungkin (tapi berusaha untuk nggak stres) untuk menyelesaikan skripsi saya. 

Sabtu, 15 April 2017 akhirnya saya menyelesaikan bab 1-5.
Saya kirim WA ke Bu Ani, pembimbing saya. Saya minta agar skripsi saya di-review dan hari Seninnya saya minta bertemu. 

Bu Ani ini adalah dosen pembimbing skripsi saya luar biasa. Beliau hampir selalu bisa kalau anak bimbingannya minta bertemu. Jika beliau tidak bisa di hari besok, beliau akan memberikan hari lain secepat mungkin. Beliau tidak pernah membuat saya menunggu lama. Paling lama, saya menunggu beliau itu sekitar 2,5 jam. Itupun karena saya terlambat. Biasanya, paling lama saya menunggu beliau sekitar setengah jam. 

Maka ketika beliau membalasa WA saya dan menyatakan bahwa seminggu ke depan beliau sibuk, saya cukup shock. Awalnya saya sedih sekali karena kemungkinan saya akan gagal untuk wisuda periode Mei karena seminggu ke depan Bu Ani sibuk (notabene beliau juga tidak punya waktu untuk menguji saya). Kemudian saya ingat potongan nasihan Ibu saya "...semuanya diserahin sama Allah.". 

Detik itu saya belajar ikhlas.
Saya ikhlas bahwa mungkin Allah belum mengizinkan saya untuk bertemu Bu Ani, belum mengizinkan untuk saya sidang secepatnya, belum mengizinkan saya untuk wisuda periode Mei. Namun di balik rasa ikhlas itu, saya masih saja menyelipkan doa agar Tuhan berbaik hati mengabulkan doa saya. 

Mungkin selama 22 tahun saya hidup, rasa ikhlas yang saya rasakan kala itu adalah sebenar-benar rasa ikhlas. Saya ikhlas bahwa- "ya sudah mau gimana lagi, Allah Tau yang terbaik." tapi saya diam-diam masih berdoa agar permintaan saya dikabulkan, Meski saya tau bahwa sepertinya nggak bisa, tapi saya berdoa dalam keadaan yakin bahwa semua akan baik-baik saja.

Sepulangnya dari bermalam minggu, Bu Ani tiba-tiba mengirimkan saya pesan,
"Saya sudah skim, cek lagi tata tulis, usahakan tidak ada judul meski sub judul berada di bawah halaman."
"Lengkapi dari halaman depan seperti skripsi yang lainnya."

15 April 2017, 9.41 PM.
Akhirnya skripsi saya di-acc.

Keesokan paginya, saya mengedit skripsi saya. Bersamaan dengan itu, saya mulai menyiapkan syarat-syarat untuk mendaftar sidang.

Ternyata bikin daftar pustaka, halaman, dan perintilan lainnya nggak gampang. Beberapa kali saya merepotkan seorang teman, Hilda namanya. Ia yang juga sedang merevisi skripsinya, harus sabar membalas pertanyaan-pertanyaan saya via chat sampai pada akhirnya dia menawarkan untuk membantu saya. Mungkin kalau Hilda nggak bantu saya siang itu, skripsi saya nggak bakal selesai di Senin pagi. Sampai Senin pukul sembilanan pun saya masih ngutak atik banyak hal. Padahal jam sembilan janjian ketemu sama Bu Ani (iya, akhirnya beliau mau menyempatkan waktunya beberapa menit untuk menandatangani kartu bimbingan agar saya bisa verifikasi hari Senin).

Karena belum selesai, saya nekat ke kampus untuk minta tanda tangan Bu Ani (tanpa bawa skripsinya). Ketemu Bu Ani pun  di jalan menuju ruangannya, bukan di ruangannya. Setelah menandatangani dan mengobrol sebentar, Bu Ani bilang bahwa saya bisa sidang tanggal 26 karena hanya hari itu beliau sempat. Padahal tanggal 26 adalah hari terakhir pendaftaran wisuda. Saya mencoba ikhlas lagi. Ya sudah, berarti memang nggak sempat wisuda periode Mei.

Meski demikian, saya berusaha untuk daftar skripsi hari itu juga.

Setelah mendapat tanda tangan Bu Ani, saya ngebut untuk ngeprint (nyaris) 700 halaman skripsi saya. Nggak sebentar dan nggak sedikit (dan nggak murah huhu). Bawa dari fotokopian sampe ruangan mas Fuad bener-bener bikin tangan saya pegel. Setelah diverifikasi, saya ngeprint tiga bendel lagi untuk keperluan sidang (karena bendel yang tadi ada yang salah, saya nggak bisa pake untuk sidang). Karena di fotokopian tadi mahal, saya pindah tempat fotokopian.

dua bendel skripsi

Nah, saya sangat rekomen tempat fotokopian ini buat temen-temen.
Selain murah (banget), masnya baik dan sangat membantu. Tempatnya juga nyaman, ada AC dan wifinya. Namanya TRI EDI. Tempatnya di gang depan kehutanan (kalo tau bakso Pak Ateng, nah masuk gang situ). Lurus sebentar, nanti fotokopiannya di kiri jalan, warna merah, SANGAT SAYA REKOMENDASIKAN BUAT TEMAN-TEMAN YANG MAU NGEPRINT SKRIPSI DAN NGEPRINT LAINNYA. SIP SIP OKE!
mas baik hati

Ketika sedang ngeprint dan mulai sadar bahwa tiga rim itu banyak sekali, tiba-tiba seseorang menepuk pundak saya,

"Lak?" 
"Hilda? Mau ngeprint apa?"
"Ini nih--" Kemudian dia ngelihatin print-print an saya. "Kamu sendiri ke sini?" Tanyanya.
"Iya. Mau ma siapa lagi?"
"Emang bisa bawa segini? Kemarin aku aja berdua."
"Eh, nggak bisa ya?"
"Ya udah nanti aku bantu ya."

Sambil-nggak-paham-lagi-sama-kebaikan-Tuhan-yang-tiba-tiba-mendatangkan-Hilda, saya melanjutkan pekerjaan saya. 

Lagi-lagi Tuhan memberikan pertolangan kecil tapi berarti bagi saya. Saat itu saya butuh tip x banget untuk menutupi identitas responden. Tempat fotokopian nggak punya, Hilda nggak punya, apalagi saya yang kalo kuliah modalnya bolpen hasil ngisi kuisioner. Tiba-tiba seorang mbak di pojokan menyodorkan tip x nya "Mbak, saya ada." 

:)

Akhirnya saya selesai ngeprint.
Mas fotokopian nanya, "ini mbak bawanya gimana?"
Saya jawab, "Nggak tau Mas. Hehe."
Lalu mas baik hati itu ke bagian belakang dan membawakan dus kertas, menata skripsi-skripsi saya sedemikian rupa, dan membantu saya serta Hilda untuk meletakkan dus itu di motor Hilda. Padahal masnya berwajah sangar kayak Mad Dog, tapi baiknya luar biasa.

Senin itu, alhamdulillah saya berhasil mendaftar skripsi.